Candu Obat Kecemasan Itu Bernama Doa dan Agama

Anzi Matta pernah menyinggung mengenai bahaya candu obat-obat anti kecemasan. Berhubung link geotimes-nya sulit dibuka, tidak jadi saya hyperlink. Dialog mengenai hal itu bisa ditemukan juga di akun Instagramnya. Dalam kuliah psikofarmakologi dengan seorang psikiater beberapa bulan lalu, saya melakukan konfirmasi hal tersebut dan memang benar adanya. 

Ketertarikan saya tentunya tidak hanya bersifat ilmiah, melainkan pribadi. Akhir-akhir ini, kecemasan saya bisa meningkat dengan digdaya mengenai apa saja. Contoh sederhana: takut minum kopi susu sebelum berangkat naik bus AKAP Semarang Jogja karena takut kebelet BAB di jalan. Padahal, jam masih menunjukkan pukul 10:30 dan saya baru akan berangkat pukul 12:30. Cukup waktu untuk boker. Akhirnya apa yang saya lakukan? Membuat dan minum kopi susu lalu berkata, “Dalam nama Yesus, nggak kebelet pup di jalan.” Diiringi dengan harapan konyol lain, “Dalam nama Yesus, nggak kebelet pipis, nggak pusing, nggak mual, nggak duduk di tempat yang panas.”

Hal macam itu akhir-akhir ini menjadi kebiasaan bagi saya jika mulai khawatir. Dalam kondisi rentan, mudah bagi saya mengkhawatirkan banyak hal. Kecemasan jauh lebih besar saat ini dibanding depresi.

Saya cemas akan bertemu mantan pacar yang saya khawatirkan akan berbuat nekat, saya cemas saat akan menghadiri pernikahan mantan pacar saya yang lain yang diam-diam masih saya cintai selama enam tahun belakangan, saya cemas karena Bapak saya akan pensiun empat tahun lagi dengan uang bulanan kurang dari satu juta sementara saya sekarang masih sekolah S2 dengan uang beliau, saya cemas adik saya tidak lulus-lulus dan cemas dengan kemampuan saya sebagai kakak yang tidak mumpuni, saya cemas membuat Ibu saya sakit atau merasa gagal menjadi ibu, saya cemas dengan kelangsungan hubungan saya yang terakhir dan kondisi keuangan keluarga kami, saya cemas mendengarkan ramalan yang tidak enak, saya cemas dengan kemampuan sebagai calon psikolog, saya cemas dengan kerja praktik enam bulan ke depan, saya cemas dengan nilai semester 2, saya cemas akan jadi apa saya nanti setelah lulus, dan lain sebagainya. 

Saya cemas dengan rasa cemas itu sendiri. 

Setiap kali mandi atau di tempat yang membuat saya berkhayal tinggi, seperti memeragakan adegan pembunuhan atau balas dendam, saya akan menyebut nama Tuhan. 

Saya bahkan membuat tulisan-tulisan yang saya tempel di kamar, menyatakan impian-impian dan keberdayaan. Mengucapkannya berkali-kali bagai mantra, tentunya dengan tetap menyebut nama Empunya. 
Tetapi itu semua bukan karena saya seorang yang taat. Saya menjadikan kehadiran doa dan agama sebagai pengganti benzodiazepine bersama teman-temannya. Marx benar: 

agama adalah candu. 

Saya hanya malas dan gengsi untuk datang ke psikiater. Plus tidak punya uang dan BPJS belum diurus semenjak pindah dari Surabaya. Mengapa tidak ke psikolog? Saya sendiri calon psikolog dan tahu bahwa proses terapi adalah proses yang panjang. Dengan jadwal yang menumpuk, butuh sesuatu yang instan. Obat anti kecemasan dan kalau perlu anti-depresan, meski jika diminum bersamaan katanya dapat menimbulkan kontra indikasi. Saya pernah menceritakan kepada rekan sesama calon psikolog mengenai keadaan saya, baik ketika masih depresif, self-harm, dan suicidal terkait trauma kekerasan yang saya alami, maupun keadaan hypervigilance macam sekarang ini sebagai akibat dari trauma. 

Ya, saya tahu secara dinamika psikologis bahwa kecemasan berlebihan saat ini kemungkinan besar adalah bentuk hypervigilance karena trauma. 

Tentu mereka orang yang baik dan pendengar empatik yang setia, pun seorang dosen yang menawarkan terapi. Akan tetapi waktu berkejaran, kami semua sibuk dan justru lebih fokus menangani klien serta kesibukan masing-masing. Pun masalah yang berkelindan tidaklah bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Saya juga tidak ingin merepotkan siapa-siapa. 

Yang menjadi bahaya adalah pertama, jika saya belum bisa mengatasi diri, bagaimana menangani orang lain? Kedua, saya merasakan betul bagaimana hubungan transendental ini sekarang menjadi tidak sehat. 

Bagi orang sayap kanan, hal macam ini tentulah baik. Mereka akan menganggap saya yang kata sebuah kuis merupakan leftist-liberalist ini bertobat. Lagipula, di balik semua keramahan di dunia nyata (untuk kepentingan bisnis agar roda keuangan tetap berputar), toh orang-orang dengan  cyberdisinhibition ternyata mampu menjadi radikalis di balik dunia maya yang seolah bebas norma tetapi penuh dengan polisi moral. Arus yang saya lihat sekarang ini punya kecenderungan menjadikan para fundamentalis merasa superior karena merasa merekalah empunya kerajaan surga. Padahal, hubungan dengan Tuhan, setidaknya bagi saya, ternyata tidak sesederhana itu. 

Jika manusia itu kompleks, maka Tuhan pastilah Maha Kompleks. 

Saat ini yang saya lakukan justru simplifikasi kehadiran-Nya. Saya berdoa lalu masalah saya hilang. Tidak salah, tetapi ada efek lain yang ditimbulkan. 

Secara psikologis, kecanduan itu mulai muncul. Muncul kecemasan bahwa saya tidak akan bisa tenang jika tidak berdoa atau paling tidak mengucap mantra. Muncul kecemasan bahwa akan terjadi hal yang buruk jika tidak melakukannya. Muncul rasa bersalah yang depresif jika hal buruk itu terjadi. Ketergantungan itu tidak sehat. Ini mirip dengan kecemasan yang ditimbulkan jika tidak ada penawar di sebelah yang dengan mudah diraih. Sama seperti kecanduan paramex bagi saya. Ya, saya selalu harus punya Paramex di setiap saya pergi meski tidak saya minum. Hal tersebut menimbulkan rasa aman. Pokoknya, lihat biru-biru di tas: aman. 

Padahal, dulu saya menganggap hubungan dengan Tuhan adalah hubungan yang berbeda dan tidak sekedar hitam putih atau timbal balik. Dua kali retreat ke pertapaan karena keinginan pribadi merupakan perjumpaan yang menimbulkan dialog yang dalam. Saya tidak suka melihat Tuhan sebagai entitas yang digambarkan dalam perjanjian lama atau dalam kitab-kitab abrahamaik lain yang suka marah hebat lalu sebentar kemudian sayang; pilih kasih pula pada bangsa dan kaum tertentu. Saya menikmati bagaimana meditasi, keheningan, konsep Manunggaling kawula Gusti, bahkan perjumpaan dengan self dalam terapi pendekatan Transpersonal sebagai wujud dialog yang jauh lebih mendasar dan bermakna. 

Kini, saya seperti memiliki sekedar hubungan behavioristik dengan Tuhan. Kalau tidak A, maka saya akan dihukum. Kalau melakukan B, saya akan dapat kebaikan. Sifatnya kemudian memang menjadi rutin, tetapi menisbikan makna, menimbulkan kecanduan yang tidak sehat dan sebenarnya sama sekali tidak menyembuhkan kecemasan. 

Saya merindukan iman yang pasrah; penerimaan diri dan keteguhan hati yang membuat kecemasan itu pergi dengan sendirinya. Kecanduan agama atau doa bagi saya justru merupakan bentuk ketidakpercayaan diri terhadap iman yang kita punya. Menumpuk kecemasan atau sekedar menghalau kesepian. 

Saya jadi bertanya-tanya, apakah kecanduan agama massal yang kini hadir dalam bentuk para netizen dan citizen yang brutal dan saling menyakiti, sebenarnya hanya tanda bahwa orang-orang sedang tidak percaya diri, penuh kecemasan dan tidak bahagia? 

Jujur saja, ada seorang karib yang berbeda pendapat mengenai beberapa hal belakangan ini dan ini juga menjadi salah satu sumber kecemasan. Saya tidak terlalu berani mengemukakan pendapat karena takut melukai persahabatan kami. Akan tetapi, lama-lama saya terganggu juga. Nha, beberapa saat lalu saya banyak berbincang dengan dia mengenai hal-hal yang sifatnya pribadi; kali ini tidak menyinggung agama sama sekali melainkan masalah keluarga. Saya kemudian jadi menelisik dan menganalisis dengan metode sotoy bahwa ada kecenderungan permasalahan pribadi membawa seseorang memilih agama sebagai jalur penyelesaiannya. Kadang, masih dalam batas normal. Kadang juga, jadi ekstrim. Semua punya caranya masing-masing. Lalu saya pun mafhum dan maklum, lantas memilih untuk menerima itu sebagai suatu keadaan e pluribus unum. 

Tetapi, jikapun benar itu semua merupakan implementasi dan kompensasi ketidakbahagiaan dan kecemasan; apakah jika saya dan Anda semua sudah aman sentosa, makmur dan bahagia; maka kita akan berhenti menunggangi agama, doa, dan Tuhan demi kepentingan pribadi? 

Entahlah. Namanya juga manusia. Saya juga manusia. Tetep busuk juga dalam menggunakan Tuhan untuk urusan personal. 

Mungkin nanti jika PPDGJ III sudah direvisi, ada baiknya memasukkan satu sub diagnosis di bawah kategori kecemasan dan atau lainnya: Gangguan Netizen yang Tidak Bahagia. 

Atau mungkin Gangguan Kaum Urban yang Ngehe. 

Atau Gangguan Glorifikasi Kaum Marjinal. 

Atau Gangguan Holier than thou Massal

Tetapi semoga itu semua hanya khayal babu saja. Oleh karenanya, semoga semua makhluk berbahagia, supaya kita tidak saling menghancurkan, juga tidak menghancurkan diri sendiri. 

Semoga kedamaian dan keamanan beserta kita semua. Amin. 

Tabik. 

Tampar. 

Mei dan Berhenti

Mei merupakan bulan yang membuatku berhenti beberapa kali dalam beberapa tahun belakangan. Berhenti berhubungan mendadak dan sepihak karena akan ditinggal menikah di bulan Agustus, berhenti merencanakan pernikahan yang pernah terancang di bulan itu, hampir berhenti bernapas secara harfiah yang membuatku paling tidak berhenti berbuat bodoh, dan terakhir: menghentikan pencarian semu selama enam tahun terakhir dari panggung ke panggung, tahun ini. 

Mei tahun ini, aku menutup tirai. Aku sadar, ini Mei terakhir aku berhenti. Atau Mei terakhir aku memberi toleransi diri. Setelahnya, aku akan berjalan. Mungkin pelan, tetapi setidaknya selangkah menerima ingatan. 

Mei ini, setelah menahun, aku akan berhenti mencari bayangmu yang maya dari panggung ke panggung. Aku berhenti singgah. Telah kutemukan rumah yang kubawa ke mana-mana. Mungkin nanti, di suatu puncak atau lembah, aku akan menegakkan dan meninggali kemah; sedangkan tempatmu tetap ada meski dalam naskah-naskah. 

Terima kasih. 

Tadi kamu tampak bahagia. Pun saya. 

Terima kasih. 
2 Januari 2008 – 3 Februari 2011

Dijual: Neraca Kebahagiaan

DIJUAL: NERACA KEBAHAGIAAN

Tahun produksi: 2023

Cara pakai:

Letakkan beban hidup Anda pada sisi kiri 

Letakkan rasa syukur Anda pada sisi kanan

Jika berat yang kiri, neraca akan berubah menjadi neraca depresi. Jika berat yang kanan, neraca akan berubah menjadi neraca delusi. 

Jika seimbang, periksa denyut nadi.

Mungkin Anda sudah mati.

Buatan dalam negeri.

Lukisan Penjual Tembakau

“Mengapa lukisan seorang anggota organisasi kiri bisa ada dalam koleksi para kolektor kaya negeri ini?” tanya D pada W di museum koleksi pekan lalu.

W tidak menggubris kata-kata D menyoal lukisan HG yang ia ketahui merupakan karib dari mantan atasannya yang kaya raya. Sebab, ia tertegun.

Di hadapannya, sesosok perempuan dalam lukisan, yang wajahnya ditempeli tubuh lelaki telanjang, mendadak mengibaskan tangan di wajahnya. Perempuan itu hendak mengusir gambar para lelaki telanjang kecil yang menempel di wajahnya, tetapi tidak berhasil.  Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari lukisan dan menjajakan tembakau serta alat pelintingnya kepada W dan D.

D menolak dengan halus. “Lihat”, ujar D kepada perempuan penjaja tembakau itu, “di pintu masuk museum ini ada petunjuk No Smoking.” 

“Kau tidak terkejut ada perempuan yang keluar dari lukisan?” tanya W yang takjub akan ketenangan sahabatnya ketika menolak tawaran sang penjaja.

“Ini tidak lebih mengejutkan dibanding pelukis kiri yang berkarib dengan industrialis kanan dan membiarkan karyanya dipajang di museum mewah, dengan uang masuk yang lumayan mahal.”

“Ah, kata siapa tidak lebih mengejutkan?” gugat W. “Bukankah tidak ada lagi kiri dan kanan jika menyangkut kepentingan?”

“Ya, mungkin kau benar,” D mengamini.

“Sekalipun ideologi telah runtuh, kau tetap kaku dengan pemikiranmu sendiri? Maksudku, masa iya kamu tidak tergoda membeli tembakau langka meski dalam ruangan dilarang merokok ini? Toh kamu kan tidak harus merokok di sini. Sama seperti membeli kondom di minimarket. Masakan kau mau bercinta di depan kasir?”

“Tetap tidak. Aku taat azas. Dilarang ya dilarang. Kiri ya kiri. Kanan ya kanan.”

“Kau takut tergoda merokok? Sama seperti orang-orang oposisi yang berjuang lalu berkeras menolak kaya karena takut semena-mena jika mencicip kekayaan sedikit saja?”

“Hhhh, kenapa tidak kau saja yang membelinya?” D mulai tidak nyaman.

“Aku sudah tidak merokok sejak tiga bulan yang lalu, berkat terapi. Baiklah, jika kau tidak mau membeli tembakaunya, tidakkah kau kasihan melihat usaha perempuan ini? Bukankah kamu masih memperjuangkan nasib para petaninya?”

D berpikir sejenak, lalu ia berkata kepada perempuan penjaja tembakau, “Dengar, aku tetap tidak mau membeli tawaranmu di sini. Tetapi aku tidak mau kamu bekerja keras dan kembali dengan percuma. Marilah aku membayarmu dengan cara yang lain.”

Perempuan itu kemudian meraih tangan D dan menariknya kembali masuk ke lukisan. 

Kini, gambar lelaki-lelaki kecil telanjang yang menempel di wajah perempuan itu bertambah satu: D.

W mengamati transformasi karibnya dengan takjub, lalu menggumam, “Harta, tahta, wanita, semua tai kucing.”

seusai OHD museum, Maret 2017

Kurcaci Grand Mal

Beberapa kurcaci memutuskan untuk menawan seorang pemuda dalam kejangnya. “Aku ingin kembali! Lepaskan aku!” berontak si pemuda.
Akan tetapi, kurcaci-kurcaci licik itu menyodorkan pola-pola tak terhingga di depan matanya yang harus ia hitung untuk menjadi tebusannya atau ia akan dijebloskan ke lubang hitam. Pemuda itu tidak kalah cerdik. Ia menutup matanya dan mengatakan pada dirinya bahwa pola-pola itu hanya kebohongan dan lubang hitam adalah gertakan belaka. Dalam matanya yang terpejam, kurcaci-kurcaci itu ia lawan; ia tendang dengan tenaga tersisa; sebab anggota tubuh lainnya terikat. 

Namun, kurcaci-kurcaci itu hanya tertawa menyaksikan sang pemuda berteriak dalam pertempuran imajiner. 

Tetangga dan keluarga pemuda itu mulai berhamburan ke ruang tawanan, hendak menyelamatkan sang pemuda dari kurcaci. Tetapi kurcaci-kurcaci tersebut membelah diri bagai menjelma Gremlin. Mereka kemudian menangkap pula para keluarga dan tetangga sang pemuda, lantas merekalah yang diseret ke lubang hitam. Dibiarkannya pemuda tersebut tetap tinggal di bumi.

Justru setelah semuanya dimasukkan ke lubang hitam, sang pemuda dibebaskan. Pimpinan kurcaci jahat tersebut lantas berkata, “Kini kamu satu-satunya yang tersisa di bumi. Seluruh keluarga dan kerabatmu telah bersatu di lubang hitam. Selamat terperangkap dalam kebebasan.” 

Tetapi kurcaci-kurcaci itu lupa masih ada aku. Aku menghampiri pemuda itu dan kami memperanakkan kegelisahan-kegelisahan.

: k

Menulis di Atas Laptop

Perempuan itu menulis di atas laptop, secara harfiah. Ia meletakkan pena di lembar kertas di dalam buku kecil; di atas tas laptop; di atas laptop; di atas kardus bekas kertas sekian rim; di atas tempat tidur; di atas imajinasi liar yang diredam atas nama kesehatan mental; di atas trauma; di atas abnormalitas gairah yang menghantui sedari belia; di atas pertanyaan soal ayah, di atas gugatan soal perempuan dan ibu; di atas rindu dendam akan lelaki dan kekasih; di atas jarak yang sepenanakan nasi antara pengetahuan dan kematian.

Sayangnya, perempuan itu menemukan dirinya di bawah kolong ranjang yang tak berongga.

Selepas toko budi, April 2017

Logos Spermatikos

                                                : C. S.

: menjawab pertanyaanmu dan pertanyaan perempuan lain, mungkin

.

.

Pada awalnya adalah kuasa 
Lalu semesta nihil

Pada tubuhku

Lalu sangkakala nisbi

Pada nasibku

.

.

Cerita yang kau dengar justru gema yang memperkuat cintamu yang niraksara

Mungkin kenyataan dan khianat, dulu dan sekarang

Meski pahit, adalah pemenuhan dahagamu akan pengakuan 

Itu sebab kau bertahun bertahan

Pada lelaki tempat madumu ia hisap dan air susumu kau sodorkan

.

.
Kisahmu tidak asing

Perempuan gasing

Sebab kehidupanmu berasal dari rahim yang luah

Darinya darahku pernah singgah

Langkahmu tidak percuma dan tidak apa 

Hanya bagimu masih, bagiku sudah



Yogyakarta – Semarang, akhir tahun yang bajingan, awal tahun yang penuh absurditas, relasi kuasa, trauma, usai baca-baca halaman depan Jurnal Perempuan, and starting losing my marbles, 2016 – 2017



Tubuh perempuan adalah ruang politik, tempat kekuasaan beroperasi. Melalui mekanisme kebudayaan, kekuasaan mengatur tubuh itu, menjadikannya ruang pamer moral: yaitu apa yang baik menurut laki-laki. Itulah aktivitas dari Logos Spermatikos. Laki-laki menggunakan kata untuk menertibkan realitas. Hasilnya adalah institusi, sistem, partai, undang-undang, pabrik, penjara, kamus, orgasme, perang, reklamasi, fatwa, dst.” (Aku, Perempuan, dan Kata-Kata, halaman depan jurnalperempuan.org)