Cerpen, FF, Puisi, Naskah

Ouroboros III

Inikah candu  bagi yang haus?

Pantai dikikis 

Sawit beringas hutan menipis

Nyanyi burung nyaris langis

Seperti berseru-seru pada tuhan langit 

Di bumi tiada tempat lagi

Bagi yang tak bergirik
Kebijaksanaan manusia adalah siasat ular derik
Bagi yang tak bergirik

Di bumi tiada tempat lagi

Seperti berseru-seru pada tuhan langit

Nyanyi burung nyaris langis

Sawit beringas hutan menipis

Pantai dikikis

Inikah candu bagi yang mampus?
Surabaya, 2015

Iklan
Cerpen, FF, Puisi, Naskah

Hipokrit

Kucing yang bertemu Santo Agustinus Sabtu lalu, menghardiknya dengan riang, “Hei, lancung!”

“Dari siapakah engkau mengirimkan salam?” tanya sang tahir.

“Floria Aemilia yang menunggu juramu,” dikatakannya sambil merancap nikmat.

“Belum jugakah kalian mengerti, wahai pendosa, bahwa untuk mencapai hikmat diperlukan taklimat?”

Licik namun sadik, si kucing menjawab, “Tetapi, Bapa, bukankah pohon pengetahuan membuat manusia tidak bahagia?”
Yogyakarta, 2015

Cerpen, FF, Puisi, Naskah

Menikmati Silampukau

Sebuah katalog moral kuterima di ujung kota

Katanya dari kantor lama, aku tergelak 

Ia menjual harapan pada perempuan binaan, lalu kutanyakan pada satpam:

“Memangnya adab membuat pertahanan kita kebal?”

Aku membungkusnya kembali dan mengirimkannya padamu lewat telegram
Kawat itu melewati tanah sengketa

Museum yang sepi pendatang

Jalanan tanpa selokan

Angkutan banyak warna

Taman dan peraduan pahlawan
Berapa siang telah dilalui sejak malam-malam kita yang lingsir

Kesepianmu telah gugur di ranjang mucikari 

Kemudaan kita yang pucat pasi menertawakan diri sendiri

Dalam nyanyian kepodang soal penutupan Dolly

Surabaya, apakah kamu patah hati?
Surabaya, Februari-April 2016

Cerpen, FF, Puisi, Naskah

Pintu Kaca di Lantai Tiga


Hujan lesak, sinyal WiFi hilang, Arga lupa membawa jas hujan. Ia mendecak sambil menutup layar laptopnya. Tidak mungkin baginya untuk bergegas pulang atau menuju kafe kesayangannya. Ke mana ia harus pergi? Ia merasakan desau angin dan percik air menyapanya dari jendela perpustakaan pusat kampus yang terbuka. Gawat, bisa basah nanti laptop dan kertas tugasku, pikirnya. Ia juga mulai menggigil dan merasakan kecemasan masuk angin.

Akhir-akhir ini ia sering cemas tak beraturan, sejak tugas menumpuk dan persoalan lainnya tak kunjung usai. Dikemasinya barang bawaannya dan dimasukkan ke dalam tasnya yang tidak anti-air. Sejenak ia berjalan ke tengah bangunan, mencari tempat yang lebih terlindung untuk menunggu hujan reda, lalu menengadah. Aku baru sadar bangunan ini megah sekali. Agak tidak terawat memang, tetapi sangat cantik untuk diabadikan, pikirnya. Menghibur hati yang cemas karena tenggat waktu tugas yang tinggal 21 jam dan internet yang tidak bisa diakses, ia memotret langit-langit dan sudut-sudut bangunan, jendela kaca, dan tangga yang memutar. Warnanya putih, lalu Arga terkekeh. 

Ia membayangkan citra yang ia abadikan akan segera ia unggah ke akun Instagramnya begitu ada akses internet nanti, berhubung paket data selulernya habis. Apa yang ia potret diamatinya satu per satu, pelan-pelan, sambil tersenyum menyeleksi. Sedikit edit di sana, ah di sini, juga. Perlu ambiance di sini, lalu highlight-nya bisa dikurangi. Mungkin perlu ditambahkan shadow? Atau tidak? Biar lebih putih bersih seperti kepunyaan akun arsitek itu? pikirnya. Arga sering mengolok dirinya sendiri ketika menemukan objek potret dengan kamera ponselnya yang sederhana. Ia akan secara bercanda mengasosiasikan dirinya dengan para fotografer di media sosial. Kali ini ia berasosiasi bahwa hasil jepretannya menyerupai gaya jepretan seorang arsitek yang asal kotanya sama dengannya. Arsitek itu sering mengunggah foto bangunan dan kreasi lain; berikut model yang enak dipandang mata; dengan latar putih.

Ah, eksistensi manusia masa kini. Jangankan memikirkan eksistensi di dunia maya, di dunia nyata saja aku kelabakan memikirkan tugas. Arga kembali tersadar bahwa ia harus mencari tempat lain. Dari citra yang ia ambil, sekilas ia melihat adanya ruangan di lantai atas. Berharap bahwa ruangan lantai atas lebih tertutup dan terlindungi, Arga menaiki tangga memutar. Ini pertama kalinya ia mengerjakan tugas di perpustakaan besar di kampus, karena persediaan uang yang menipis. Jika masih ada uang, tidak jarang ia akan mengerjakan tugasnya di kafe atau co-working space. Ia masih bingung dengan denah bangunan besar ini. Ia teringat pernah mendengar teman-teman perempuannya membuat tugas bersama di suatu ruang yang disebut Ruang Diskusi. Dicarinya ruang tersebut di lantai dua. Tidak ada. 

Bodoh, itu kan ada lift. Lagipula di dekatnya ada petunjuk ruangan. Karena letaknya hanya ada di lantai selanjutnya, Arga bersikukuh menaiki tangga dengan tasnya yang berat. Setelah bertanya ke kanan dan ke kiri, ia memasuki ruang dengan pintu kaca bernama Ruang Diskusi. Dicarinya sudut yang kosong; yang betul-betul tidak membutuhkan dialog dan diskusi seperti namanya; karena Arga tidak pernah suka berada di tengah manusia dan keramaian.

Ia memilih sudut yang dindingnya berupa kaca. Dibukanya laptop dan dicobanya lagi menyalakan sinyal WiFi. Berhasil! Ia kemudian mulai menulis, mencari, dan berpikir. Kala berpikir ia akan melihat ke sekitar sebelum meneruskan lagi apa yang hendak ia tulis. Saat itulah ia menyadari sesuatu. 

Di sebelah barat ia duduk, ada sebuah pintu kaca. Pintu kaca tersebut tidak mengarah ke ruangan apapun. Di depannya langsung luar ruangan, padahal letaknya di lantai tiga. Pintu kaca itu kemungkinan besar dikunci, dengan sebuah bangku besar yang menutupi akses ke pintu kaca tersebut, seolah menghalangi orang untuk membukanya dan loncat dari lantai tiga ke halaman samping perpustakaan. Ia berhenti sejenak, memotretnya, mengunggahnya di Instagram Story, menanyakan apa kegunaan pintu itu dan bangku di depannya, dan seseorang di sana membalasnya.

Seseorang itu memberikan pesan pribadi, “Mungkin bangku di depannya justru ditaruh sana supaya orang lebih tinggi meloncat. Hahaha!” 

Arga menjawab, “Cerdas! Kamu malah memberiku ide baru. Enlightment! Eureka!”

Seseorang itu menanggapi dengan jenaka, “Eureka? Coba kamu lari dan loncat dari sana sambil telanjang.”   

Arga kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mencari kamar mandi. Ia lalu menjawab seseorang tersebut, Tetapi toilet di sini tidak punya bathtub. Tidak bisa buat mandi juga karena toilet kering. Sayang sekali Archimedes tidak bisa menuntaskan apa yang ia rasakan di tempat ini.

Tepat saat ia mengirimkan pesan tersebut dan hendak kembali ke kursinya, seorang laki-laki keluar dari bilik toilet yang ditutup. Laki-laki itu menyenggol Arga yang berdiri dekat urinoir, membuatnya hampir menjatuhkan ponsel. Arga hampir mengumpat, “Eh, Mas! Liat-li.. eh? sebelum akhirnya ia menyadari bahwa laki-laki itu: telanjang dan berlari.”

Arga lalu mengejar laki-laki tersebut karena penasaran. Ketika kembali ke Ruang Diskusi utama, semua orang yang berada di ruangan tersebut tampak tenang, padahal laki-laki tadi masih berkeliaran dengan telanjang, sambil berteriak pula. Arga terhenyak. Ia merasa ada yang aneh. Dengan ponselnya lagi, ia mengambil video dan beberapa foto. Ia ingin memeriksa apakah ini hanya khayalannya saja atau tidak. 

Baru saja ia akan memeriksanya, tiba-tiba ia melihat dengan sudut matanya, laki-laki telanjang tersebut menuju pintu kaca! Arga hampir berteriak, tetapi ia kemudian ingat ini perpustakaan. Janggalnya, tidak ada seorang pun yang menoleh. Ia kemudian menahan diri dan memutuskan untuk mengabadikan momen tersebut di belakang si laki-laki. Pikirannya masih terbelah antara ingin menyelamatkan si laki-laki, takut jika ini hanya khayalannya belaka, atau membuatnya menjadi viral hingga ia terkenal. 

Dari layar ponselnya dan sudut matanya, Arga melihat laki-laki telanjang tersebut menaiki bangku yang menghalangi pintu tersebut lalu membuka pintu kaca perlahan-lahan. Ia meloncat! 

Arga terkesiap, akan tetapi ia masih sanggup bergerak. Ia lari dan melihat ke arah luar ruangan. Begitu ia mendekati pintu kaca, sebuah tangan menariknya. 

“Jangan mencari apa yang sudah hilang,” suara berat itu menahannya. Arga menoleh, mendapati pria paruh baya menggunakan kartu tanda pengenal petugas perpustakaan: Sadranan, Penanggung Jawab Ruang Diskusi. 

Pak Sadranan kemudian membimbing Arga duduk di bangku yang menutupi pintu kaca tersebut dan menenangkannya. 

“Kamu pasti kaget kan? Siapa namamu? Tuh lihat, pintunya sudah tertutup kembali. Jarang aku lihat ada orang yang kembali melihat hal yang sudah tidak lagi dilihat orang selama bertahun-tahun ini.”

“Sa..saya Arga, Pak..Pak..Sadranan, ya? Tadi itu siapa? Kok hilang tiba-tiba? Kenapa semua orang seperti tidak melihat tetapi saya melihat?”

“Tenangkan pikiranmu dulu. Bawa minum? Kalau di ruang ini boleh minum dan makan makanan kecil, lho.” Pak Sadranan terkekeh, lalu mengambil botol minum Arga yang terletak di sebelah timur bangku yang mereka duduki. Arga langsung mengambilnya dan meneguknya hingga setengah botol 750 ml itu habis.

“Saya juga tidak tahu itu siapa,” ujar Pak Sadranan setelah Arga sedikit tenang. 

“Seperti Archimedes.”

“Eh?”

“Eh, maaf, Pak. Beberapa saat sebelum dia muncul, kebetulan saya dan teman saya berbincang mengenai Archimedes yang lari telanjang sambil berteriak Eureka! Begitu.”

“Saya malah merasa dia serupa Ahasveros.”

“Kayak puisi Chairil Anwar saja.”

“Oh, Nak Arga masih tahu? Hebat. Hebat.”

“Itu kan pengetahuan umum. Mungkin tidak semua orang tahu judul puisinya Tak Sepadan, tetapi masa orang tidak tahu cukilan tersebut.”

“Hahaha! Coba sekarang tanyakan kepada para mahasiswa lain yang asyik sendiri membuat tugasnya masing-masing itu. Masih kenalkah mereka dengan hal-hal yang dianggap remeh-temeh macam itu. Kita lihat, di ruangan ini saja, berapa orang yang peduli.”

“Kalau mahasiswa jurusan Teknik Mesin masa ya harus tahu sih, Pak? Omong-omong, mengapa Bapak merasa dia serupa Ahasveros?”

“Karena dia seperti pengembara yang jadi gila setelah gagal menemukan jati dirinya. Daripada seseorang yang berhasil menemukan sesuatu yang berguna bagi dunia seperti ketika Archimedes berteriak Eureka, ia lebih kelihatan seperti orang yang hilang arah, Lihat, sekarang saja dia menghilang.”

“Apakah dia hantu?”

“Tidak tahu. Tidak semua orang melihatnya. Setelah melihatnya pun, reaksi orang yang ditampaki berbeda-beda juga. Ada yang setelah itu, ia justru melihat penampakan lain.”

“Seperti?”

“Seperti muncul tantara-tentara di ruangan ini, mencari mahasiswa yang terlibat dalam politik. Tantara-tentara tersebut membawa senapan dan menghentak-hentakkan kaki di lantai perpustakaan. Tentara-tentara tersebut menghilang melalui pintu kaca yang sama.”

“Jangan-jangan mereka hantu tentara di tahun-tahun normalisasi kehidupan kampus. Ibu saya bilang, dulu di kampusnya sering ada tentara yang mencari mahasiswa yang aktif tersebut.”

“Kalau ada hantu tentara, mestinya ada yang mati di sini, Nak. Tetapi sampai sekarang tidak.”

“Apa lagi, Pak, yang dialami oleh orang yang ditampaki? Ada yang jadi gila juga, nggak? kali ini Arga bertanya dengan serius, takut bahwa yang ia lihat adalah halusinasi dan delusi yang menjadi gejala skizofrenia atau semacamnya. Arga bahkan mulai berpikir bahwa Pak Sadranan juga tidak nyata.”

“Ada yang melihat serombongan mahasiswa seperti sedang demonstrasi di ruangan ini, kemudian keluar melalui pintu yang sama. Orang-orang yang bukan mahasiswa dalam jumlah rombongan yang banyak yang demonstrasi, entah itu buruh, pekerja, masyarakat desa, orang-orang di kota, dan macam sebagainya, membuat keributan di ruangan ini lalu keluar melalui pintu itu. Saya tidak pernah bisa menjelaskan kepada mahasiswa atau siapapun yang melihatnya, apakah mereka itu. Mengapa hanya beberapa orang yang ditampaki, saya tidak tahu. Mengenai ada yang gila atau tidak, saya juga tidak tahu. Biasanya saya hanya bertemu dan berbincang sekali untuk menenangkan diri mereka dan menceritakan bahwa beberapa orang yang juga mengalami hal serupa.”

“Yah, sepertinya memiliki teman yang mengalami kejadian serupa memang menenangkan untuk manusia, ya. Berarti ia tidak gila, atau setidaknya ia tidak merasa sendirian. Kalaupun gila juga sama-sama. Hahaha!” Arga tertawa miris.

“Tetapi tadi kamu merasa sendirian, kan, ketika kamu melihatnya dan orang lain di ruangan ini tidak?”

Arga mengiyakan. Ia lalu melanjutkan, “Oleh karena itu, Pak, tadi saya mengabadikan kejadian tersebut dengan ponsel. Rencananya akan saya unggah di internet. Pertama, kalau memang laki-laki tadi muncul di gambar, saya bisa mendapat justifikasi bahwa apa yang saya lihat itu nyata. Kedua, siapa tahu video atau foto tersebut menjadi viral dan saya terkenal, hehehe.” Ketika mengucapkan kalimat yang terakhir, sebetulnya Arga sedang bercanda. Akan tetapi wajah Pak Sadranan tetap serius membuat Arga menahan diri. 

“Apakah dengan kamu menjadi terkenal di internet atau mendapat pengakuan bahwa yang kamu lihat di sekitar itu benar, kamu merasa menjadi lebih baik? Menjadi lebih berguna? Eksistensimu diakui? Atau merasa memberikan manfaat bagi sekitar?” tanya Pak Sadranan tiba-tiba.

“Eh?” Arga kaget dengan pertanyaan yang serius itu. Ia tidak menjawab.

“Saya ingat, ada seorang mahasiswa yang datang ke sini lagi setelah tiga tahun sebelumnya melihat hal yang sama dengan apa yang kamu lihat. Ia sudah menjadi alumni ketika datang kedua kalinya. Selain melihat si Ahasveros itu tadi, ia juga melihat sekumpulan orang-orang dari LSM yang menentang penebangan hutan dan menghilang di pintu itu juga. Ia bercerita, sejak saat itu ia terus-menerus memikirkan hal tersebut. Ia merasa seperti mendapat wahyu untuk menyelamatkan lingkungan. Ia merasa di situlah panggilannya. Ia kemudian memutuskan untuk tidak berpacaran supaya fokus, menulis skripsi dan penelitian lain mengenai lingkungan meskipun ia orang sosial, berkecimpung di LSM yang bergerak di sana, dan mencoba memberikan edukasi mengenai lingkungan bagi orang di sekitarnya.”

“Bagus, kan? Idealis dan inspiratif.”

“Ya, pada awalnya memang demikian. Tetapi lima tahun kemudian sejak kedatangannya yang kedua, sekitar dua bulan lalu, ia datang ke sini hanya untuk mengajak saya ngobrol. Ia mengeluhkan betapa orang-orang tidak peduli, betapa perjuangannya sia-sia. Orang hanya akan peduli pada hal-hal yang sedang menjadi topik hangat, yang membuat mereka eksis. Atau paling banter, katanya, orang hanya akan peduli pada hal-hal yang memiliki kedekatan dengan mereka. Isu agama dan politik misalnya, jauh lebih seksi daripada isu lingkungan.”

“Ah, saya mengerti.” Arga menerawang, menatap para mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas dengan khusyuk. Beberapa di antara mereka mendengarkan musik melalui earphone dan tampak sama sekali tidak terganggu dengan keadaan apapun. Ia kemudian menengok ke belakang, ke arah pintu kaca yang sudah kembali tertutup dan terkunci, dan mengamat-amati pemandangan di luar.

“Apa rencanamu setelah lulus?” tanya Pak Sadranan membuyarkan lamunan Arga.

“Bekerja sesuai bidang saya. Saya sih rencananya tidak ingin bekerja kantoran, tetapi menjadi pekerja independen. Ikut orang dulu sementara waktu sepertinya tidak apa-apa, apalagi yang idealisme dan cara bekerjanya cocok dengan saya. Yang jelas saya tidak ingin tergantung oleh perusahaan-perusahaan besar, apalagi disetir oleh mereka.”

“Rencana menikah?”

“Ah, Bapak ini, saya masih muda, lho, masih dua dua. Kapan-kapan sajalah.”

Pak Sadranan tersenyum dan menyentuh bahu Arga. Ia lalu bertanya dengan sedikit berbisik, “Menurutmu, dengan rencana setelah lulusmu tadi, kamu akan jadi Archimedes atau Ahasveros?” 

Arga kemudian ditinggalkannya sendirian. Masih kaget dan kini bergidik, Arga kemudian memutuskan untuk keluar dari Ruang Diskusi. Hujan telah reda. Di dekat tempat parkir, dalam sebuah kesempatan yang jarang, Arga kemudian menelepon seseorang di seberang sana.

“Halo? Kok punya pulsa?” goda yang di sana.

“Paket telepon masih ada, internet yang habis.”

“Ada apa?”

Arga sebenarnya ingin menceritakan apa yang dia alami, akan tetapi ia tahu hal tersebut hampir-hampir tidak masuk di akal.

“Kok diam?” tanya suara seseorang yang di sana.

“Nggak apa-apa. Aku kangen. Ayo kita kawin, beranak, dan berbahagia.”

“Hahaha! Ndasmu! Tugasmu bagaimana? Sudah selesai?”

Sial! Arga teringat tugasnya yang harus dikumpulkan 19 jam lagi. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke atas motor, mengendarainya meninggalkan kampus, menuju ruang-ruang kekinian, menerobos ketidakpedulian orang-orang yang banal.    

Yogyakarta, 16-17 November 2016

Cerpen, FF, Puisi, Naskah, Tulisan Lama yang Tidak Tahu Mau Diapakan

Sarei Hapanim

Mengesampingkan kericuhan yang terjadi, sungguh, tidak pernah saya temukan sebelumnya, sebuah gereja yang berdevosi penuh kepada para malaikat. Seminggu sebelumnya, tenggorokan saya rasanya langsung kering karena menganga terkagum akan arsitekturnya yang menyerupai gereja Eropa kuno. Kecuali bahwa ruangannya berpendingin, gereja ini memiliki semua duplikasi yang melegitimasi ambisi pembangunnya akan abad pertengahan. Termasuk, tiruan lukisan di langit-langit oleh Michaelangelo dan Da Vinci gadungan yang belum selesai. Gereja ini tak menamai dirinya dengan nama salah satu malaikat, akan tetapi dari ujung depan hingga belakang, terdapat patung-patung malaikat berjejer lengkap dengan namanya. Nama yang bahkan tak saya ketahui sebelum saya ke gereja ini. Hanya ada empat malaikat agung yang saya kenal. Mereka adalah Uriel, Gabriel, Mikael, dan Rafael. Keempat patung tersebut menempati tempat terdepan, sedangkan malaikat lainnya ada di belakang. 

Tiga hari sebelum kericuhan itu terjadi, pertama kalinya saya menghadiri misa di gereja ini. Saya menumpang di rumah saudara yang kebetulan terletak di kompleks elit. Gereja tersebut terletak di dalamnya. Kompleks itu amat luas dan membingungkan, bagai kota di dalam kota. Bagi saya yang asing dengan kota ini, menumpang di rumah saudara yang berkecukupan dan memiliki fasilitas lengkap dari yang duniawi hingga tempat ibadah adalah hal teraman. Saya masih mengantuk ketika mobil saudara membawa saya berputar-putar. Kereta baru sampai pukul empat dini hari. Ia memilih misa pukul enam pagi. Kalau menolak, dengan siapakah saya nanti akan ekaristi? Soal mengapa presensi misa saya menjadi hal yang begini penting, akan diceritakan nanti.

Saat itu, kantuk saya hampir tak tertahankan, bahkan di separuh ibadat sabda saja. Satu-satunya  penahan kantuk saya adalah patung malaikat di samping saya. Pasalnya, saya duduk di sebelah Azrael, malaikat pencabut nyawa. Sebuah tangan mencolek saya diam-diam dari bangku belakang. Tangan itu berbicara, ”Mas, jangan tertidur di bawah patung Azrael. Nanti Mas tidak bisa bangun lagi.”

Tergagap bangun, saya menoleh. Seorang bapak-bapak berusia 45 tahunan saya kira. Ia tersenyum jenaka. Saya menganggukkan kepala dengan sikap sopan dan malu. Pada akhir misa, ia menghampiri saya yang ditinggal saudara berkumpul dengan junior-juniornya di Mudika1 paroki. 

“Mas percaya dengan apa yang tadi saya katakan?”

“Saya malah baru tahu ada malaikat kita yang namanya demikian.”

“Tetapi saya lihat Mas percaya. Mas langsung bangun dan tak pernah ketiduran lagi setelah saya menyampaikan pesannya.”

“Pesan…nya?”

Wajah saya pasti berubah aneh sekali. Saya memang tak  pandai berbohong, baik dalam ucapan maupun ekspresi. Ia tergelak puas sekali, sampai kami ditatap oleh sisa umat yang masih di dalam gereja.

“Jangan terlalu serius. Saya koster2 di sini. Sudah lama saya mengenal para malaikat di gereja ini. Mereka baik-baik, kok. Tidak mungkin Mas mati karena Azrael menghendaki. Mereka tidak akan berani melangkahi Gusti. Hanya memang ada porsinya sendiri-sendiri. Mas orang baru?”

“Saya hanya tamu. Anu, mereka bisa bica..”

“Beruntung sekali kalau begitu! Mas bertamu di saat yang tepat! Tinggallah di sini sampai Natal kalau bisa. Mas akan melihat kejutan yang menarik.” Dipotongnya ucapan saya yang masih terheran-heran dan tetap mengantuk.

“Memang saya akan tinggal di sini sampai lepas Natal. Wah, siapa yang akan membuat kejutan? Panitia? Romo? Dewan paroki?” Dalam hati saya berharap terdengar antusias.

“Para malaikat.” 

Saya pikir saya salah dengar. Akan tetapi ketika hendak menanyakannya, koster itu telah beranjak di antara keterjagaan saya yang hanya setengah. 
“Kamu sudah dengar? Misa Natal ditunda! Kita ke gereja lain saja.” Saudara saya membangunkan saya yang berencana tidur hingga satu setengah jam sebelum misa malam Natal pertama dimulai. Dengan setengah kesadaran yang berhasil dikumpulkan, saya berusaha setertarik mungkin dengan apa yang dia katakan.

“Kok bisa? Ada apa?”

“Ada kehebohan di gereja. Patungnya hilang.”

“Patung apa? Yesus? Kan memang belum akan dipasang sampai ada arak-arakan sebelum homili. Maria? Yosep?”

“Malaikat. Gabriel. Gilanya lagi, patung tersebut diganti oleh patung Azrael!”

“Bukannya patung malaikat yang di samping itu besar-besar? Tidak mungkin patung itu dipasang di atas kandang.”

“Dia dipasang di dekat tempat yang sedianya akan diletakkan palungan. Menyeramkan. Seolah-olah hendak membunuh bayi Yesus sebelum dilahirkan.”

“Ya tinggal dipindah saja. Apa masalahnya?”

“Seiring dengan hal itu, banyak keluarga yang memasang patung Natal dan kehilangan patung sang malaikat. Selain itu, entah kenapa patung tersebut tak bisa dipindah. Sekarang koster gerejaku sedang dipanggil romo kepala paroki untuk ditanyai.”

“Eh, kostermu yang menegurku ketika aku tertidur di misa kemarin?”

“Wah, kurang tahu. Memang waktu ke gereja kemarin itu kamu tertidur?”

Ah, dasar tidak peduli! Saya cepat beranjak dari ranjang dan mengenakan celana panjang serta kaos berkerah yang digantung. 

“Kamu mau ke mana?” saudara saya begitu heran melihat saya tiba-tiba saja beranjak.  

“Ke gerejamu. Naik taksi saja tidak apa. Kalau kamu mau misa di tempat lain, pergilah. Aku akan tetap misa Natal di parokimu, meskipun itu artinya besok.”

Koster itu harus saya temukan. Sungguh, hal ini menarik minat saya sebagai seorang sosiolog. Kantuk saya belum sepenuhnya hilang, jejak kaki saya ke atas paving dari dalam taksi pun terasa melayang. Namun, dalam bayangan saya, bisa dibayangkan wajah antusias para mahasiswa dan media-media setiap saya menceritakan kejadian yang menarik. Hal inilah yang membuat saya terus melangkah dengan percaya diri, meski tak ada satupun orang yang saya kenali. Banyak orang yang berkumpul di depan gereja sudah saya tanyai mengenai koster tersebut. Seorang bapak perlente yang mengaku dewan paroki menarik saya ke teras.

“Sudah kami duga, ia akan melakukan sesuatu yang tak masuk akal, Dik.” Nadanya terdengar seperti seseorang yang lebih berpengalaman hidup dari saya. Saya duga usia kami sebenarnya sebaya, hanya kemudaannya dimakan gengsi dan kehormatannya sebagai atasan sebuah perusahaan, seperti yang ia akukan pada saya. 

“Ia adalah koster baru. Koster kami yang lama meninggal setelah bangunan baru gereja ini selesai. Orangnya aneh dan tidak berpendidikan. Dia tidak menyukai kami. Selalu menatap kami dengan pandangan curiga.”

“Kira-kira, apa sebabnya?”

“Dulunya ia tinggal di bangunan belakang rumah mantan majikannya. Ia dulu sopir pribadi di kompleks ini juga. Banyak yang bilang jiwanya agak terguncang sejak istrinya meninggal. Istrinya meninggal sejak melahirkan anaknya yang kelima. Sebetulnya itu salah dia sendiri. Ia tidak mau KB. Katanya tidak sesuai ajaran gereja. Ketika istrinya di ambang bahaya, ia tidak menyetujui tindakan aborsi. Pada akhirnya bayinya selamat meskipun cacat, sedangkan istrinya meninggal. Kebetulan harinya bertepatan dengan Natal setahun lalu. Sejak itulah ia jadi menyalahkan kami. Dipikirnya kami tidak mau membantunya, tidak peduli padanya. Lah, apa hubungannya dengan kami? Jika soal santunan, majikannya kan sudah memberinya gaji. Tak sepadan katanya. Itu sih saya kira akal-akalan dia saja. Memang tak pandai atur uang dia, anaknya banyak begitu. Orang semacam itu memang bebal dan keras kepala. Ia mendaftarkan diri menjadi koster, saya pikir adalah caranya balas dendam. Padahal ia ditampung oleh romo untuk tinggal di sini, malah membuat kekacauan dan teror.”

“Ketika saya bertemu dengannya tadi, dia tidak kelihatan seperti orang jahat. Ramah malah.”

“Ya karena Adik bukan orang sini. Amat terlihat.”

Saya mencoba tidak memperhatikan omongannya yang secara implisit menyatakan kami tidak selevel. Fokus saya adalah untuk menggali langsung dari koster tersebut. Hanya anggukan dan deham saja setelah itu, menunggu setelah ia ditanyai romo. Tak berapa lama setelah itu terdengar teriakan dari dalam. Saya mengenalinya sebagai suara koster tersebut.

“Semua ini salah gereja! Aturan-aturannya! Orang-orang munafik semua! Membuat aturan yang sulit-sulit, membahayakan nyawa orang, mengajarkan cinta kasih namun tak ada yang peduli. Lihatlah! Yang datang bukan Gabriel! Bukan pembawa sukacita! Yang pantas untuk kalian adalah Azrael! Azrael! Malaikat pencabut nyawa. Sudah mending yang datang bukan peniup sangkakala. Kalian masih ada waktu. Dengar itu! Masih ada waktu untuk berubah. Berubah!” Koster tersebut keluar dari ruangan kepala paroki sambil menunjuk-nunjuk semua orang, matanya menyalang-nyalang. 

Ditunjuknya seorang ibu yang menggendong anaknya. “Itu bukan anak suamimu!” Ditunjuknya anggota dewan paroki yang tadi bersama saya. “Tikus pemerintah! Tukang korupsi! Bantuan untuk bencana kau ke manakan, hah?” Ditunjuknya bapak-bapak lain. “Kau berselingkuh! Selingkuhanmu laki-laki. Berterusteranglah! Apa masalahmu?” Lalu ke bapak-bapak lain. “Dasar tukang pukul keluarga! Di luar kau bertindak seolah prodiakon3 yang religius.” Ia lantas menyasar pasangan paruh baya. “Kalian menikahkan anak kalian yang hamil karena diperkosa, huh? Karena malu? Bukankah hakikat pernikahan itu bukan demikian? Bukannya melindungi anak sendiri malah membuangnya demi nama baik! Tetapi menggugurkannya kalian tak mau. Dosa katanya. Gila.” Ia kemudian melihat seorang ibu yang kelihatan amat mentereng meski hanya untuk melihat keributan saja. “Kamu habis membiarkan seorang tukang becak di depanmu mati keracunan nasi basi kan? Kau tahu ia kesakitan, tetapi karena kau pikir ia bau dan tak layak masuk mobilmu, kamu tidak menolongnya.” Tak lupa ia menunjuk ke pastor pembantu paroki yang terlihat masih amat muda, mungkin baru saja tahbisan tiga tahun lalu. “Katakan pada teman-temanmu yang suka membuat aturan tak jelas. Lihat umatnya! Realistis! Realistis! Apa kau semua bisa mengemban jika jadi kami? Katamu kau gembala. Lihat seniormu satu itu. Beranak pinak termasuk dengan ibu itu.” Ia menunjuk ibu yang menggendong tadi, bersama dengan romo kepala paroki. Semua diam. Lama sekali.

Ia lantas pergi begitu saja. Rasanya waktu itu bagai tersihir. Ketika saya tersadar dan ingin menanyainya, ia telah menghilang. Saya bergegas turun dari teras dan ruang kepala paroki, meninggalkan keriuhan dan kericuhan yang kemudian menjadi amat ganas, penuh teriakan dan tangisan. Saya harus mencarinya sebisa saya. Orang ini amat menarik! Perkataannya pun amat misterius. Bisa dijadikan subjek penelitian.
Pada akhirnya saya tidak bisa menemukannya. Pada akhirnya saya juga mengikuti perkataan saudara untuk misa Natal di gereja lain. Pasalnya, kericuhan yang terjadi saya dengar heboh sekali, hingga misa dibatalkan. Yang tidak ikut dalam keributan tersebut disarankan untuk mengikuti paroki lain. Saya harus tetap mengikuti misa sekalipun tak ada yang baru bagi saya. Maklum, saya mesti laporan yang baik-baik sebagai rekam jejak bahwa saya telah siap menjadi orangtua asuh secara jasmani maupun rohani bagi keponakan saya. Ayah dan ibunya harus percaya bahwa saya adalah tempat yang benar. Saya pun tak pandai jika harus berbohong, seperti yang telah saya katakan

Di tahun baru, di hari ketika dokumen adopsi telah selesai, saya dengan bangga membawa keponakan dengan mobil sewaan ke rumah. Sejak orangtuanya melakukan pembatalan perkawinan, ia memutuskan untuk tinggal dengan pamannya agar netral.  Dia anak 12 tahun yang baik. Saya paman yang baik. Tetapi kami tak banyak minat satu sama lain. Mungkin begini lebih baik. Namun, tiba-tiba ia membuka percakapan.

“Oom tahu kelanjutan dari kehebohan di gereja itu?”

“Eh, tidak. Kamu tahu?” Saya berharap ia mengetahui jejak sang koster.

“Ketika hari raya Keluarga Kudus4, akhirnya bagaimanapun misa harus diselenggarakan. Tidak enak juga kalau tidak misa terus-terusan gara-gara masalah itu. Semua berjalan sebagaimana mestinya, seolah tak terjadi apa-apa. Tetapi agar tidak heboh atau mengingatkan lagi pada peristiwa itu, di sebelah patung Azrael yang tak bisa dilepas di kandang, ditaruh patung malaikat lain, Rafael. Katanya biar kesembuhan datang pada umat gereja tersebut.”

“Lalu kosternya?”

“Menghilang.”

“Oh.” Saya menghela kecewa. Namun, menimbang perasaan keponakan saya yang terdengar sedikit antusias, saya berbicara lagi. “Apa pendapatmu soal kejadian itu?”

“Azrael tidak buruk-buruk amat, ah, aku kira. Mengapa semua orang takut akan kematian jika itu jalan yang terbaik? Toh ia hanya melaksanakan tugasnya. Kematian tak selalu berarti dukacita atau hukuman. Gabriel dan kabar kelahiran tidak selalu membuat orang bahagia. Kesembuhan juga tak selalu membuat orang sukacita. Kalau sembuh, hidup, tetapi tidak merasakan apa-apa lagi, atau hutangnya banyak, dosanya menumpuk, buat apa? Sama kayak zombie, Oom. Kesembuhan dan hidup tak selalu jadi jalan keluar. Lebih baik Azrael datang dan menghabisi jiwa mereka yang lama. Siapa tahu mereka bisa lahir baru.”

Tak sepatah kata pun mampu keluar selama beberapa detik pertama setelah keponakan saya itu mengeluarkan opininya yang membuat takjub. Akhirnya, saya hanya bisa bilang, “Pendapatmu seperti orang tua saja.”

Nama baptis keponakan saya adalah Rafael.

Catatan;

  1. Mudika : singkatan dari Muda-mudi Katolik
  2. Koster : petugas gereja yang pekerjaannya melakukan segala macam persiapan teknis baik untuk misa maupun kegiatan sehari-hari 
  3. Prodiakon : rohaniwan (bisa awam) yang melaksanakan tugas pengganti imam/asisten imam sebatas penerimaan komuni dan ibadat (bukan misa)
  4. Hari Raya Keluarga Kudus : Hari Raya di Minggu setelah Natal
Cerpen, FF, Puisi, Naskah, Self-disclosure, Tulisan Lama yang Tidak Tahu Mau Diapakan

Ode Kehilangan: Pengepul Almanak


​Sejak kau pulang dari pelataran rumah Djoko Pekik kala itu, ia telah berumah di matamu yang sehidup lukisan Basoeki Abdullah. Pertama kau menemukannya di panggung Tambur kala hujan masih belum mengguyur. Eksotisme bambu raksasa dan aliran sungai hanya mampu mengalihkanmu sejenak dari musik, tetapi tidak darinya. Kau menatapnya dengan tatapan aneh. Ia terlihat bersih, putih, terawat, anak kota, dan lembut. Ia seperti penonton lain yang kau temui seharian itu. Ia bagai teman-temanmu yang tak mengerti soal jazz, tetapi hanya tahu para pengisi acara yang ditaruh di jadwal paling belakang. Ia datang menyeruak di antara barisan penonton yang masih lowong kala siang, membawa setumpuk almanak yang terlihat membebaninya menonton pertunjukan. Kamu bertanya, “Jualan kalender, Mas?” Dengan senyumnya yang tak pernah kau lupa, ia menjawab, “Saya justru mengumpulkannya.” Kau hendak mengejarnya untuk bertanya “buat apa”, tetapi ia telah menghilang di sekelebatan pandang.

Usai angin kencang, teman-temanmu mengajak ke panggung Siter yang telah dipadati kaum pengungsi hujan. Gerimis memang melenakan. Pasangan-pasangan mulai berdatangan, mahasiswa dan kaum pencinta seni juga acara gratisan. Kau makin terpepet rasanya. Sedangkan rasa penasaranmu akan sang pengepul almanak tak bisa dibendung jua. Kau memisahkan diri dari temanmu sebentar. Kau menyusuri sosok demi sosok di hari yang mulai gelap. Kau menemukannya dan mulai mendekatinya lebih personal. Kali ini kau baru menyadari bahwa ia memiliki mata panda. 

“Buat apa Mas mengumpulkan kalender dan membawanya ke sana ke mari? Mencari dana? Untuk dijual lagi?”

“Saya bisa saja bercerita kenapa, tetapi musik terlalu bising di sini. Tidak nyaman. Kenapa Mbak begitu penasaran sampai mencari saya?”

“Saya bisa saja mengatakan alasannya, tetapi musik terlalu bising di sini.”

Kau seperti mengirimkan kode kepadanya. Ia tertawa renyah dan ramah.

“Hati-hati lho, Mbak kalau mengajak saya. Saya bisa saja jahat, jahat sekali.”

“Sekalipun di pelataran rumah orang?”

“Bagi saya ini hutan.”

Kau dan dia menyusuri jalanan menuju panggung sisanya, Slompret. Di sana pengisi acara puncak akan berpanggung. Hari memang masih terlalu sore untuk ke sana, tetapi kau malah justru menyukainya.

“Saya bantu bawakan?” kau menawarkan dirimu yang kecil ringkih.

“Tidak usah. Ini berat.” Tubuhnya yang gempal pendek jenaka tampak sudah mulai kepayahan menopangnya. Satu kalender terjatuh. Kau memungutnya. 

“Ini kalender tahun ini? Saya pikir isinya kalender bekas.”

“Buat apa mengumpulkan kalender bekas? Saya tak hendak menjualnya ke tukang kertas kok.”

“Lalu buat apa? Lagipula apa tak repot membawa-bawanya ke tempat ini? Tidak diikat di motor?”

“Nanti dicuri orang. Ini kan masih awal tahun, siapa tahu ada yang butuh tetapi tidak mau bilang. Oh ya, tadi yang jatuh tolong kembalikan ke tumpukan ini ya.”

“Tidak boleh buat saya?”

“Tidak boleh.”

“Kenapa? Katanya tadi bukan untuk dijual. Lagipula yang ini lucu, bagus. Tidak seperti kalender gratis hasil beli jam tangan. Sayang kalau hanya dikumpulkan tanpa alasan.”

“Oh itu juga ada. Tetapi saya juga tidak akan memberikannya.”

“Pelit sekali.”

“Bukannya pelit. Saya akan beri tahu alasannya.”

Ia duduk di bawah pohon bambu begitu saja, masih memeluk penanggalan yang kiat kusut. Mengikutinya, kau juga menempatkan diri di sebelahnya. 

“Kamu mungkin tidak akan percaya. Keluarga saya sakit, entah kena tulah apa. Saya satu-satunya anak yang sehat. Kakak saya tidak bisa ke mana-mana dalam waktu yang cukup lama. Seperti lumpuh saja. Ayah saya masih bisa beraktivitas, tetapi kadang ia seperti kehilangan dirinya. Kami sudah mencoba berobat ke mana-mana. Akhirnya oleh seorang kerabat, kami dianjurkan untuk laku tirakat.  Karena saya sehat, maka saya yang menjalankannya.”

“Dengan membawa-bawa kalender?”

“Kalender adalah persyaratannya. Kerabat saya bilang, tulah di keluarga saya disebabkan oleh perbuatan yang diperbuat almarhum kakek saya di kehidupannya. Saya harus menyusuri siapa saja yang pernah disakiti olehnya semasa hidup. Kakek saya dulunya rentenir. Saya harus meminta satu kalender baru tahun ini kepada setiap keluarga yang saya temui. Saya sempat kaget karena di antara mereka bahkan ada yang tak punya kalender karena tak mampu membelinya. Kata mereka, toh waktu berjalan sama saja. Nasib mereka tak akan berubah. Kalender hanya akan mengingatkan mereka pada jatuh tempo hutang yang harus dibayar dan pertambahan usia yang tak menambah penghasilan. Untuk orang-orang seperti itu, saya akan membuat kalender sendiri untuk mereka lalu menamainya. Ini kalender Pak A, Bu B. Begitu.”

“Mengapa kalender baru, bukan tahun ketika mereka disakiti kakek Mas? Mengapa harus dibawa-bawa tanpa boleh diletakkan? Lalu setelah ini diapakan?”

“Karena tahun yang baru membawa pengharapan baru. Walau demikian, kata kerabat saya, di setiap kalender pastilah tinggal jiwa-jiwa yang belum dibebaskan. Dibebaskan oleh dendam, dibebaskan oleh luka, oleh sumpah-serapah. Saya tak boleh meletakkannya kecuali makan, mandi dan tidur. Kuliah pun harus saya pangku. Sebab itu adalah beban yang belum selesai. Setelah semua terkumpul, barulah kami akan mengetahui siapa yang mengirim tulah.”

“Dengan sendirinya?” selamu tak sabar.

“Begitulah setidaknya menurut kerabat saya. Nanti jika sudah, saya harus menyerahkan seluruh kalender ke orang tersebut, untuk ditukar dengan kesembuhan keluarga saya.”

“Masih banyak yang harus dikumpulkan?”

“Mungkin.”

“Mengapa begitu percaya dengan kata kerabat?”

“Kenapa tidak? Dia satu-satunya orang yang bisa saya percaya sekarang. Semua orang yang saya datangi penuh kebohongan dan ketidakmengertian.”

Kau terdiam. Kau ingin tertawa dan atau mencoba untuk paham. Kau mulai mengernyitkan kening akan cerita orang di sebelahmu, diam-diam tentunya, ketika kau tak menghadap wajahnya yang bulat lucu. Tetapi kau tak sampai hati, ia tampak serius setengah mati. Pada kalimat terakhir ia bahkan tampak agak tersinggung dengan nada yang agak naik.

Tetapi ia tiba-tiba tertawa keras, keras sekali sampai kau ngeri. Ia tertawa menggema, seolah menutup seluruh pengeras suara yang menyiarkan musik di pelataran. Tawanya tak seperti manusia. Kau mulai melihat sekelilingmu, sepikah? Sebab di hatimu kau mulai khawatir ia berubah menjadi makhluk jahat penghuni hutan bambu. Tetapi ia ternyata hanya bangkit dari duduknya dan mengajakmu yang masih terheran seram. 

“Ayo ke Slompret.”

“Untuk apa Mas ke sini?” kau masih mencoba bangun dari ketakjubanmu akan sikapnya.

“Ya nonton musik jazz. Masa tidak boleh? Tidak ada pantangannya dalam tirakat kok.” Ia telah kembali tersenyum. Kau juga bangkit, mengikutinya dengan tanda tanya ke arah panggung. Waktu kau datang bersamanya, kata ganti telah berganti menjadi kalian. Kalian berada di sisi panggung yang sudah hampir penuh, menanti Iga Mawarni. Tetapi pada saat Glenn Fredly bermain, kalian telah sanggup maju mendekat. Lepas pesan-pesan kemanusiaannya, lagu-lagu bernada romansa diperdengarkan. Kau merasakan ia memelukmu dari belakang dengan kedua tangannya, tanpa almanak.

Perhelatan berakhir. Kalian juga. Ia kehilangan satu buah kalender. Tadi tumpukan itu ia letakkan di bawah pohon bambu dekat pengeras suara sebelah kiri. Ia kini menjadi panik. Kau mencoba membantu mencarinya. Nihil. Ia kini bahkan menduga kau mengambilnya sebagai buah tangan. Kau tentu saja mengelak karena bukan. Di tengah pencarian, teman-temanmu mengajak pulang. Hari kelewat malam. Kau bilang kau harus membantu seorang teman mencari barangnya sebentar. Kau menceritakan pada teman-temanmu soal sang pengepul almanak. Tak seorang pun melihatnya. Ia telah pergi meninggalkanmu dengan segenggam almanak dan kejengkelan yang meruap. Kau pulang dengan terpaksa dan patah.

Tak apa, tak apa katamu. Tetapi diam-diam kau mencari-cari kalender yang ia cari juga. Kau mungkin tak akan paham dengan jalan pikirannya. Mungkin selamanya kau tak akan sepenuhnya percaya akan ceritanya. Tetapi kau merasa hendak ditulah jika tak menemukannya. Kadang kau seperti menemukan kalender yang ia cari, akan tetapi tahunnya telah berganti, berganti, dan berganti. Kau pun mulai mengumpulkan almanak seperti yang ia lakukan. Bedanya, kau menyimpannya di pojok kamar. Tak seorang pun boleh tahu jika malam-malammu kau habiskan menyeleksi kalender-kalender serupa yang hilang. Kau mencoba mencari jejaknya biar mudah menyerahkan jika kau bisa menemukannya, tetapi ia alpa kabar.

Ini bukan salahmu, ini bukan salahmu, katamu. Tetapi kau diam-diam merasa bersalah akan pelukan yang menyebabkan ia kehilangan kemungkinan kesembuhan keluarganya. Kau mencoba mencari kalender itu di tempat-tempat lain, tempat-tempat yang tak terduga. Yang kau dapati hanyalah kekecewaan dan kelelahan pada pikiranmu yang tak beristirahat. 

Kau memutuskan untuk tak ke perhelatan tahun depannya dan tahun depannya lagi sebelum menemukan kalender tersebut. Akan tetapi perhelatan di penghujung pergantian tahun ini tak diselenggarakan di pelataran yang sama. Kau pergi bersama rekanmu ke arah Godean, menembus hujan dan ketakutan, namun juga menjemput kelegaan. Ada Idang Rasjidi dan keseruan-keseruan. Lalu kau susuri jalan pulang yang penuh dengan kafe yang pindah rumah.

“Ketemu!”

Kau heran. Kau menemukan kalender itu di sini, di tempat yang amat jauh dari tempat awal ia hilang. Kau menemukannya sebagai alas pamflet yang disebar gratis sepanjang pertunjukan, bagai ketidaksengajaan yang ditakdirkan. Kau kini merasa punya daya untuk bertemu dengannya yang masygul padamu. Kau tahu ia belum tentu ada di pelataran yang sama, mungkin juga tak akan kembali. Akan tetapi malam itu kau bergegas untuk kembali ke pelataran yang sama untuk meninggalkan kalender itu di sana. Siapa tahu dia mengambilnya. Hanya itu saja, tak perlu lagi pertemuan.

Kau tak menyadari, kau telah terserap masuk ke dalam almanak yang kau genggam dan tak keluar lagi. Selama perjalananmu ke pelataran Djoko Pekik, jiwamu telah berumah dan hidup di dalamnya, sehidup lukisan Basoeki Abdullah.

Cerpen, FF, Puisi, Naskah, Self-disclosure, Tulisan Lama yang Tidak Tahu Mau Diapakan

Seusai Kereta


​Pada setiap kepulangannya dari kunjungan ke kota tempat sahabatnya dipenjara, Sa memilih naik kereta api. Sa memang lebih menyukai kereta dibanding bus yang dihadang macet dan travel yang memabukkan serta mahal. Sa akan berharap mendapat tempat duduk di bagian A dan B, sehingga ia akan lebih dekat dari laut pantai utara. Sa akan memotret laut sekali dua, meski tiap kali juga mereka bersua. Kereta api ekonomi AC cukup sering berhenti, tetapi tidak pernah di tempat yang begitu ia dambakan: tepi laut. Dalam khayalannya, Sa turun dari kereta, membawa serta barang-barangnya, begitu saja. Sa akan mencari rumah penduduk yang ia yakini ramah dan tidak menjelma serigala, tak seperti manusia di kota sahabatnya dipenjara.

Pada hari kereta itu akhirnya berhenti di tepi laut, hujan deras. Vonis baru saja dijatuhkan tadi siang.

Sa mengurungkan niat untuk turun, mungkin ia juga tidak seberani itu. Ia lelah dan berharap pulang dengan travel saja. Jarak dari stasiun ke rumahnya amat jauh. Stasiun itu pun tak menyediakan angkutan umum langsung dari depan halaman. Jika biasanya ketika cerah Sa bisa berjalan untuk mencari bus, entahlah dengan hujan sederas itu. Naik taksi? Sa mengkalkulasi. Ongkos naik kereta dan taksi malah lebih mahal dibanding jika ia naik travel. Sa kesal dengan dirinya sendiri. Diisinya pikiran dengan segala kemungkinan bagaimana ia sampai rumah, dicemaskannya hal itu. Diceknya dompetnya yang berantakan dan bersatu dengan segala macam kartu. Ketika ia membuka dompet, ada yang kurang. Dikagetkannya hal itu. Sa hampir lupa KTPnya belum dimasukkan lagi usai pengecekan tiket. Dipanikkannya hal itu. Ia ingat letak KTPnya, dilupakannya hal itu. Sa tahu solusinya mudah, dirumitkannya hal itu. 

Ketika segala pikirannya tak lagi bisa direkayasa, kereta telah masuk kota S. Tetapi ternyata kota S amatlah besar dan perjalanan menuju stasiun P masih panjang. Sa mengisinya dengan berkhayal mengenai pelempar batu di kaca retak samping bangkunya sekarang. Begini isinya: Pelemparnya ialah monster laut utara, yang pernah bermimpi jalan-jalan naik kereta dan menjelma menjadi manusia. Ia tidak melemparkan batu, melainkan telurnya. Sebab, meski ia telah melupakan mimpinya untuk naik kereta, ia ingin anaknya merasakan naik kereta dan diterima manusia. Tetapi sesampai di dalam, petugas kantin kereta menemukan telur tersebut dan mengolahnya menjadi makanan paling mewah sekereta api. Anehnya, sang monster tak pernah menyerah untuk terus mengirimkan anaknya. Ia hanya akan berhenti ketika hujan, menghibur diri dengan menggulung lautan karena ditolak manusia. 

Kereta telah berhenti dan hujan belum. Di pintu keluar yang sempit dan tak kondusif, tukang ojek dan tukang becak berjas hujan plastik berdesakan menawarkan jasa. Sa menatap halaman stasiun yang hampir selututnya yang pendek. Tak mungkin ia jalan. Ia menunggu satu tukang becak ditolak, barulah ia akan bertransaksi dengannya. Sa akan merasa sedikit berjasa sebagai manusia jika berbuat demikian, tak seperti ketakbisaannya menghadapi kasus sahabatnya. 

“Ke mana, Mbak?”

“PLN. Tempat menunggu bus itu, lho. Berapa?”

“Lima belas.”

“Hah? Dekat itu. Sepuluh ya?”

“Lima belas. Hujannya deras sekali, Mbak.”

Sa memang tidak pandai menawar. Tetapi kali ini ia mengiyakan bukan karena hal itu. Gegayaan saja tadi dia. Ia memang ingin, anggapnya, beramal. Ia menaiki becak tersebut dengan rasa berjasa pada sesama yang semakin besar. Ia merasa lebih baik melihat dirinya kini. 

Perjalanan terasa lebih jauh dan lambat, mobil-mobil mencipratkan genangan ke arah becaknya. Di balik lindungan plastik, Sa menggerutu, “Orang kaya sialan!” 

“Orang kaya memang begitu!” tukang becak setengah berteriak sambil membasuh wajahnya yang kuyup hujan. Sa terkejut ia bisa mendengar keluhannya. Ia memutuskan untuk diam hingga becak menyeberang dan menurunkannya di tepi trotoar. Mereka berdua berteduh di depan sebuah pasaraya yang telah bangkrut. 

“Saya cegatkan nanti busnya,” ujar tukang becak.

“Wah, terima kasih,” kagum Sa. Bukankah sikap seperti ini tak akan ia temukan di orang-orang yang mencipratkan genangan dengan mobil mewah tadi seenak jidat? Ia mendadak teringat akan pernyataan tukang becak tadi.

“Boleh tanya?” Sa sekaligus mencoba memecah kesunyian.

“Bagaimana, Mbak?”

“Mengapa tadi Bapak bilang ‘orang kaya memang begitu’? Pernah ada pengalaman kurang enak?”

Tukang becak tiba-tiba memucat dan tergagap. Sa tertawa.

“Tenang saja. Saya bukan orang kaya. Kalau iya, saya tadi pilih naik taksi atau dijemput mobil mewah.”

“Wah, syukur. Ah, banyak, Mbak. Tetapi baru-baru ini, ada satu kejadian yang betul-betul tidak enak. Anak saya. Wah, saya malah jadi cerita ini.”

“Silakan. Mumpung busnya belum datang.”

“Anak saya perempuan, 18 tahun. Sekarang, dia dipenjara. Tahu kasusnya? Dituduh mencuri payung!”

“Kok bisa?” 

“Dia bekerja di kota J sebagai PRT. Rumah majikannya mewah-mewah. Majikannya cukup baik sama dia. Tidak menyiksa, gaji dibayar. Cuma di kota besar, orangnya cuek-cuek. Pokoknya selesai kewajiban, ya sudah. Nah, anak saya itu dituduh mencuri payung dari teman tetangganya.”

“Payung teman tetangga?”

“Jadi, ada satu tetangga yang kedatangan tamu. Waktu itu hujan dan dia datang pakai taksi. Dia bawa payung yang basah, mungkin menunggu taksinya di luar. Lalu ya, ditinggal saja di luar pagar. Lucunya, majikan anak saya bahkan tidak pernah bertemu dengan tetangga yang temannya kecurian itu. Dia bilang dia juga tidak tahu sifat anak saya, jadi tidak bisa bilang apa-apa. Wah, ya sudah.” 

“Tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan?”

“Kami malah diomongi supaya jadi orang kecil itu jangan pengenan. Ini sebagai pelajaran, wong katanya hanya sebentar di dalam. Tapi, aduh, walau hanya enam bulan, tetap: makan duit dan hati! Saya harus menanggung biayanya di dalam, juga membayar kalau besuk. Belum lagi proses hukumnya di luar kota. Padahal kata anak saya, dia hanya meminjam payung sebentar untuk anak majikannya yang ingin ke warung tiba-tiba.” Suaranya meredup pada kalimat yang terakhir. Sa tertegun dalam kedekatan peristiwa, meski hanya sebentar, sebab bus telah datang.

Ia naik setelah dicegatkan, bergegas dikejar hujan. Dianggukannya kepala pada tukang becak yang sendu. Telepon masuk dari Wartel Lapas. Didengarnya suara sahabatnya yang dibuat riang.

“Sudah pulang?”

“Sudah. Kamu jadi menuntut balik? Banding?”

“Nggak. Aku turuti saranmu. Paling juga kalah, dia pakai pelicin.”

“Baguslah. Kamu masih benci dia, karena menjatuhkan kamu?”

“Memang, tapi.. Eh, aku cepat saja ya. Mahal, lima ratus lima puluh per menit.  Aku titip…”

“Nanti aku subsidi di dalam.”

“Gaya! Kerja saja kamu belum dapat. Nanti saja kalau aku keluar, bantu melunasi hutang dan kasus perdata.” Mereka berdua tertawa.

“Titip Camus, Tolstoy, Kafka. Bantalku yang ada di kamu, baju tidur…”

Suaranya semakin samar di telinga Sa, bercampur bunyi mesin bus tua, atap yang bocor, jendela yang tempias, air yang menderas, dan tagihan kondektur. Sekujur tubuh Sa telah kuyu dan lembab, matanya berjamur dalam sekejap.

Cerpen, FF, Puisi, Naskah, Uncategorized

Rumah Tuju Ketujuh

Ketika akhirnya aku menemukan rumahnya, hari sudah menjelang petang. Angin musim kemarau bertiup seangkuh pagar rumahnya yang tinggi dan tertutup. Jaketku aku tangkup. Aku berdiri lama sekali di rumah seberang hingga gonggongan seekor anjing menyadarkan. Seorang satpam keluar dari rumahnya membawa kecurigaan. Aku membawa alasan.

“Ya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?”

“Benar ini rumah Pak Gun? Saya hanya mengantarkan paket, tetapi takut dengan anjing di dalam.”

“Oh.” Si satpam tersenyum lega tanpa curiga. Ia seperti mengejek posturku yang tinggi besar namun penakut. 

“Bisa dititipkan ke saya saja. Ada pulpen? Saya yang tanda tangan. Nanti saya sampaikan.”

Aku menunjukkan di mana ia harus tanda tangan. Ia lalu kembali ke dalam, membawa paket segenggam dan menutup gerbang yang tetap tak ramah. Aku lalu menyeberang mendekati gerbang. Aku bersandar pada pagar yang menyembunyikan tubuhku. Sepuluh menit aku menunggu. 
Pukul 17.40. Praktis aku telah berkeliling kompleks ini enam jam empat puluh menit. Aku merasa seperti sedang masangin1 di alun-alun. Jalurku sudah sesuai dan lurus namun yang ada hanya dibelokkan. Aku memutuskan mampir ke sebuah rumah makan Padang. 

Aku duduk menghadap jalan. Di seberang rumah makan Padang ini terdapat rumah makan Aceh. Di sebelahnya terdapat rumah penduduk biasa. Besar-besar dan mewah-mewah, berjejer-jejer. Tatapanku terpaku pada sebuah rumah setelah rumah pertama di seberang jalan. Itu dia! Pasti tak salah lagi. Mengapa tak kulihat dari tadi?

Itu adalah rumah ketujuh yang kutuju. Motor kutinggalkan di parkiran rumah makan Padang.

Ketika akhirnya aku menemukan rumahnya, hari sudah menjelang petang. Angin musim kemarau bertiup seangkuh pagar rumahnya yang tinggi dan tertutup. Jaketku aku tangkup. Aku berdiri lama sekali di rumah seberang hingga gonggongan seekor anjing menyadarkan. Seorang satpam keluar dari rumahnya membawa kecurigaan. Aku membawa alasan.

“Ya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?”

“Benar ini rumah Pak Gun? Saya hanya mengantarkan paket, tetapi takut dengan anjing di dalam.”

“Oh.” Si satpam tersenyum lega tanpa curiga. Ia seperti mengejek posturku yang tinggi besar namun penakut. 

“Bisa dititipkan ke saya saja. Ada pulpen? Saya yang tanda tangan. Nanti saya sampaikan.”

Aku menunjukkan di mana ia harus tanda tangan. Ia lalu kembali ke dalam, membawa paket segenggam dan menutup gerbang yang tetap tak ramah. Aku lalu menyeberang mendekati gerbang. Aku bersandar pada pagar yang menyembunyikan tubuhku. Sepuluh menit aku menunggu. 

Masih tak ada suara yang aku harap. Aku menatap  ponselku, siap meneleponmu memberitahukan kabar kemenangan.
Aku mendapatkan alamatnya dari internet. Menanyakan pada teman-teman atau orang yang terkait dengannya memang lebih praktis, tetapi juga lebih riskan. Masalahnya hanya satu. Aku buta arah dan tak bisa baca peta, pun arah mata angin. Bisa saja aku minta bantuan agar ditemani mencari rumahnya, tetapi misi ini harus kuselesaikan sendiri. Tidak murni, sih. Aku meminjam seragam pengantar paket dan nota dari teman kostku yang bekerja di sana. Kukatakan bahwa aku membutuhkannya untuk studi partisipatif mata kuliah Antropologi atau sejenisnya. Jadilah seragam itu kupinjam. 

Usai menemukan kompleksnya, ada enam rumah yang tadinya kupikir adalah rumahnya. 

Yang pertama, ternyata salah kelurahan. Harusnya GK, tetapi itu CT. Bagaimana tak terkecoh? Jalannya sama, nomornya pun sama. Aku harus menyeberang jalan besar untuk mencapai kelurahan yang benar.

Yang kedua, muncul seorang kakek tua dengan kursi roda. Namanya sama. Manalah mungkin itu dia? Kakek ini begitu tak berdaya. 

Yang ketiga, menurut si pembantu yang membukakan pintu, pemiliknya telah meninggal.

Yang keempat, salah nomor. Seharusnya aku hapal bahwa nomor rumah kompleks ini tak pakai angka romawi. Aku keliru mengira nomor sebelas sebagai nomor dua.

Yang kelima, salah nomor lagi. Kali ini karena tertutup dedaunan pohon depan. Kupikir nomor dua, ternyata dua puluh empat.

Yang keenam, salah gang. Aku menuruti peta di internet dan mencoba mencari dari arah sebaliknya, yang berakibat salah masuk gang.

Pukul 17.40. Praktis aku telah berkeliling kompleks ini enam jam empat puluh menit. Aku merasa seperti sedang masangin di alun-alun. Jalurku sudah sesuai dan lurus namun  yang ada hanya dibelokkan. Aku memutuskan untuk mampir ke sebuah rumah makan Padang. 

Aku duduk menghadap jalan. Di seberang rumah makan Padang ini terdapat rumah makan Aceh. Di sebelahnya terdapat rumah penduduk biasa. Besar-besar dan mewah-mewah, berjejer-jejer. Tatapanku terpaku pada sebuah rumah setelah rumah pertama di seberang jalan. Itu dia! Pasti tak salah lagi. Mengapa tak kulihat dari tadi?

Itu adalah rumah ketujuh yang kutuju. Motor kutinggalkan di parkiran rumah makan Padang.

Ketika akhirnya aku menemukan rumahnya, hari sudah menjelang petang. Angin musim kemarau bertiup seangkuh pagar rumahnya yang tinggi dan tertutup. Jaketku aku tangkup. Aku berdiri lama sekali di rumah seberang hingga gonggongan seekor anjing menyadarkan. Seorang satpam keluar dari rumahnya membawa kecurigaan. Aku membawa alasan.

“Ya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?”

“Benar ini rumah Pak Gun? Saya hanya mengantarkan paket, tetapi takut dengan anjing di dalam.”

“Oh.” Si satpam tersenyum lega tanpa curiga. Ia seperti mengejek posturku yang tinggi besar namun penakut. 

“Bisa dititipkan ke saya saja. Ada pulpen? Saya yang tanda tangan. Nanti saya sampaikan.”

Aku menunjukkan di mana ia harus tanda tangan. Ia lalu kembali ke dalam, membawa paket segenggam dan menutup gerbang yang tetap tak ramah. Aku lalu menyeberang mendekati gerbang. Aku bersandar pada pagar yang menyembunyikan tubuhku. Sepuluh menit aku menunggu. 

Masih tak ada suara yang aku harap. Aku menatap  ponselku, siap meneleponmu memberitahukan kabar kemenangan.

Tak lama kemudian aku mendengar teriak kesakitan. Mataku berbinar!
Simpang siur kudengar kabar darimu, gadisku, seusai kau melahirkan. Aku harus mencari kebenaran ketika aku pulang.

 “Anak kami?” aku memberanikan diri bertanya.

Ibumu menghembuskan napas panjang. Akhirnya ia bercerita.

“Itu bukan anak kalian. Tes DNA yang dibiayai Pak Gun menunjukkan anak itu adalah cucunya. Kau heran kan? Kami juga. Tak mungkinlah putri kami tidak bersetia kepadamu. Ada kemungkinan dia dip.. ah, sudahlah.” Ibumu berkaca-kaca. Aku menangkap maksudnya. Darahku terkesiap. 

“Lalu bagaimana nasib anaknya sekarang?” kualihkan pembicaraan.

“Di rumah itu, bersama ayah dan kakek neneknya. Kami bahkan tak bisa menemui cucu kami sendiri. Aneh memang. Pada awalnya Pak Gun tidak menghendaki kehadiran cucunya yang dianggap tidak selevel dan dikandung di luar nikah. Ia menyuruh untuk menggugurkan, bahkan jika lahir sehat ia bilang dibunuh saja. Kini, setelah kejadian itu, mereka justru mengurungnya di sana.” Ketika berbicara, bapakmu terlihat amat tua dimakan kehilangan.

“Mungkinkah kejadian itu disengaja? Bukan kewajaran?” aku menyebutkan kejadianmu ketika melahirkan.

“Entahlah. Kami tak ingin memikirkannya. Apakah tak cukup mengambil anak kami satu-satunya dengan cara yang bejat, memperlakukannya semena-mena, lalu mengambil satu-satunya yang tersisa darinya yang paling berharga? Apa yang mereka cari? Mereka kan punya segalanya! Ah, setidaknya malah dengan kejadian itu, anak kami terbebas dari penderitaan yang lebih panjang. Kau tak tahu apa yang dia alami semasa kehamilan di rumah itu. Entahlah dengan cucu kami.” Bapakmu yang kukenal dengan ketenangannya menjelma liyan. 

Tekadku pulang membulat. Aku mengenal anak Pak Gun, teman kita bersama di SMA. Pun aku tahu rupa Pak Gun. Masalahnya hanya satu, aku tak tahu rumahnya usai aku merantau untuk kuliah sambil bekerja.

Aku mendapatkan alamatnya dari internet. Menanyakan pada teman-teman atau orang yang terkait dengannya memang lebih praktis, tetapi juga lebih riskan. Masalahnya hanya satu. Aku buta arah dan tak bisa baca peta, pun arah mata angin. Bisa saja aku minta bantuan agar ditemani mencari rumahnya, tetapi misi ini harus kuselesaikan sendiri. Tidak murni, sih. Aku meminjam seragam pengantar paket dan nota dari teman kostku yang bekerja di sana. Kukatakan bahwa aku membutuhkannya untuk studi partisipatif mata kuliah Antropologi atau sejenisnya. Jadilah seragam itu kupinjam. 

Usai menemukan kompleksnya, ada enam rumah yang tadinya kupikir adalah rumahnya. 

Yang pertama, ternyata salah kelurahan. Harusnya GK, tetapi itu CT. Bagaimana tak terkecoh? Jalannya sama, nomornya pun sama. Aku harus menyeberang jalan besar untuk mencapai kelurahan yang benar.

Yang kedua, muncul seorang kakek tua dengan kursi roda. Namanya sama. Manalah mungkin itu dia? Kakek ini begitu tak berdaya. 

Yang ketiga, menurut si pembantu yang membukakan pintu, pemiliknya telah meninggal.

Yang keempat, salah nomor. Seharusnya aku hapal bahwa nomor rumah kompleks ini tak pakai angka romawi. Aku keliru mengira nomor sebelas sebagai nomor dua.

Yang kelima, salah nomor lagi. Kali ini karena tertutup dedaunan pohon depan. Kupikir nomor dua, ternyata dua puluh empat.

Yang keenam, salah gang. Aku menuruti peta di internet dan mencoba mencari dari arah sebaliknya, yang berakibat salah masuk gang.

Pukul 17.40. Praktis aku telah berkeliling kompleks ini enam jam empat puluh menit. Aku merasa seperti sedang masangin di alun-alun. Jalurku sudah sesuai dan lurus namun  yang ada hanya dibelokkan. Aku memutuskan untuk mampir ke sebuah rumah makan Padang. 

Aku duduk menghadap jalan. Di seberang rumah makan Padang ini terdapat rumah makan Aceh. Di sebelahnya terdapat rumah penduduk biasa. Besar-besar dan mewah-mewah, berjejer-jejer. Tatapanku terpaku pada sebuah rumah setelah rumah pertama di seberang jalan. Itu dia! Pasti tak salah lagi. Mengapa tak kulihat dari tadi?

Itu adalah rumah ketujuh yang kutuju. Motor kutinggalkan di parkiran rumah makan Padang.

Ketika akhirnya aku menemukan rumahnya, hari sudah menjelang petang. Angin musim kemarau bertiup seangkuh pagar rumahnya yang tinggi dan tertutup. Jaketku aku tangkup. Aku berdiri lama sekali di rumah seberang hingga gonggongan seekor anjing menyadarkan. Seorang satpam keluar dari rumahnya membawa kecurigaan. Aku membawa alasan.

“Ya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?”

“Benar ini rumah Pak Gun? Saya hanya mengantarkan paket, tetapi takut dengan anjing di dalam.”

“Oh.” Si satpam tersenyum lega tanpa curiga. Ia seperti mengejek posturku yang tinggi besar namun penakut. 

“Bisa dititipkan ke saya saja. Ada pulpen? Saya yang tanda tangan. Nanti saya sampaikan.”

Aku menunjukkan di mana ia harus tanda tangan. Ia lalu kembali ke dalam, membawa paket segenggam dan menutup gerbang yang tetap tak ramah. Aku lalu menyeberang mendekati gerbang. Aku bersandar pada pagar yang menyembunyikan tubuhku. Sepuluh menit aku menunggu. 

Masih tak ada suara yang aku harap. Aku menatap  ponselku, siap meneleponmu memberitahukan kabar kemenangan.

Tak lama kemudian aku mendengar teriak kesakitan. Mataku berbinar! Tetapi yang kudengar seperti lengkingan anak kecil, bukan suara suamimu ataupun mertuamu. Sial! Oh, masa inipun tak sesuai sasaran?! Anakmukah itu, yang terkena patuk ular berbisaku? Oh, maaf! Maaf!

Aku mencoba meneleponmu. Kudengar suaramu yang genit di kotak suara. Kuulang. Kuulang. Kuulang. Kuulang. Kuulang. Kuulang. Kuulang! Hanya kotak suara yang menjawab. Sekejap aku meloncat jadi Holly dalam P.S. I Love You yang menghubungi mendiang suaminya. Namun kali ini bukanlah karena tumor otak, melainkan emboli.

Dalam panikku aku menatap langit. Di sana muncul penampakan naga berkepala tujuh bertanduk sepuluh yang hendak membunuh anak sang perawan dan perawan itu sendiri. Namun kali ini, sang naga menang.2 

  • Masangin: mencoba berjalan lurus di antara dua beringin Alun-alun Kidul Yogyakarta dengan menutup mata
  • Disadur dari Wahyu 12:1-9 tentang “Perempuan dan Naga”
Cerpen, FF, Puisi, Naskah

Termamang

Kinasih membenci ajang anjangsana. Jika ini anjangsana, mengapa tertoreh ragu dan enggan untuk pulang. Kota hanya berjarak tiga setengah jam, tetapi komunikasi yang terjeda telah melumpuhkan kata-kata. Ia memainkan ujung resleting cardigan hijaunya dalam bus patas, pendingin ruangan terasa menusuk bus yang hanya berisi dua belas orang. Ia menatap jalan baru Ambarawa. Dilihatnya penumpang di depannya mengeluarkan ponsel pintarnya untuk memotret. Jalan baru yang melingkar seusai Bedono dan berakhir sebelum terminal Ambarawa ini memang menyejukkan mata. Kinasih tak mengeluarkan ponsel dan kameranya. Ia merekam keleluasaan sawah dan perbukitan lewat matanya yang bundar berbinar, membayangkan dirinya turun di tengah jalan, tak usah pulang ke Semarang. Sore yang cerah, desa yang tergambar pada buku-buku anak SD dan TK, mengikuti jejak beberapa remaja awal di pinggir jalan yang nggabur dara1. Terakhir ia pulang, jalan ini bahkan belum dibuat. Tetapi kali ini amatlah keterlaluan jika ia tak pulang. Ibunya tak mengatakan banyak kata ketika ia terdiam di seberang, menyiapkan kata untuk menunda lagi kepulangan.

“Nduk, iki tumplak punjen2.”  

Sudah dua pernikahan dia lewatkan. Satu saudara kandungnya, Arimbi. Satu lagi ialah adiknya seibu, Inta. Kali ini yang menikah adalah Tina, adik Inta. Sesungguhnya Kinasih memiliki lebih banyak saudara dari ayah kandungnya yang bercerai dari ibunya saat ia berusia empat tahun. Ayah kandungnya memiliki lebih banyak pernikahan. Namun, Kinasih tak hendak ingin menghitung adik seayahnya yang jumlahnya mencapai belasan, pun datang ke pernikahan atau membiayai kehidupan mereka. Kinasih adalah anak Ibu, tumpuan Ibu. Sampai saat itu.

Kinasih tidak membenci Semarang. Tidak panasnya, tidak robnya, tidak banjirnya, tidak lembabnya, tidak aura statisnya. Ia hanya tidak ingin pulang dalam kekalahan. Ayah tirinya yang pewaris pabrik kecap tidak pernah menuntut apapun. Justru itulah. Minggu lalu, ayah tirinya menelepon dengan suara yang hangat dan riang. Kinasih tersenyum mengingat bujukan ayah tirinya yang melebih ayah kandungnya.

“Kin, pulang. Papa kangen. Kali Garang sudah hampir selesai lho.”

“Lalu?” Kinasih menjawab dingin, walau di hatinya kasihan juga dengan ayahnya yang baik hati.

“Dulu kamu tinggal di situ kan waktu kecil? Ibumu cerita, di sana kamu sering main air justru waktu banjir.”

“Aku nggak mau ke sana ah, Pa. Trauma.”

“Justru itu, justru karena sekarang sudah bagus, kamu tidak harus takut terseret arus lagi. Sekarang tempatnya bagus lho, kita bisa olahraga di pinggir kali. Lari-lari, melihat pemandangan, ada jembatan yang kokoh. Papa temani kamu nostalgia. Kita bahkan bisa jalan-jalan naik motor sampai Banjirkanal Barat. Pokoknya menyusuri sungai.”

“Hmm, maksudnya apa nih?”

“Hahaha! Pokoknya pulanglah. Papa hanya mau bilang, apapun yang pernah kamu lalui, Papa pasti akan mendampingi kamu, menemani kamu.”

“Diusahakan.”

“Pulanglah. Harus. Atau kamu Papa coret dari surat warisan.”

Klik.

Kinasih tertawa mendengar ancaman canda dari ayah tirinya. Ayah tirinya berasal dari keluarga Tionghoa, bukan Jawa seperti dirinya. Biar demikian, ayah tirinya tampak tak peduli dengan masalah rasa atau status janda ibunya dan dua anak yang dibawanya. Satu-satunya masalah dalam pernikahan ibunya dengan ayah tirinya ialah restu keluarga ayahnya. Tidak satupun keluarga ayahnya pernah menghadiri pernikahan anak-anak ayahnya. Tidak pernikahan Kinasih, Arimbi, atau Inta. Kinasih tak berani bertaruh soal pernikahan Tina. Biar begitu, ibunya selalu terlihat bahagia tanpa kekurangan. Jika disinggung tentang keluarga suaminya, ibu Kinasih akan mengatakan, “Nggo pepak-pepak bebrayan.3” sambil tertawa. Ibu memang ringan hati, begitu juga ayah tiri. Mungkin itu yang dilihat Kinasih dari pernikahan mereka yang hampir sempurna. Kinasih lupa, atau mungkin tak ada memori tersisa sama sekali, dengan pernikahan ibunya yang kandas jauh sebelumnya. Ia hanya tahu ketika Ibunya sendiri, berjualan makanan dari kantor ke kantor, lalu menjadi menerima pesanan, sampai sekarang mampu membuka toko roti sendiri. Ia hanya tahu bahwa meski ada perjuangan, unsur lelaki mampu menggeser kurva normal kehidupan. Kinasih memutar-mutar cincin yang ada di tangan kanannya. Sesungguhnya ia bisa melepasnya, toh semua sudah usai. Kinasih berjanji akan melepasnya, selepas resepsi Tina.

Hingga bus memasuki depan RSUD Ungaran dan keluar di gapura Pudak Payung, Kinasih masih belum tahu siapa calon Tina. Ia lebih memilih untuk menyimpan misteri. Harapnya, semakin banyak kejutan semakin banyak harapan. Ia lebih suka memasang wajah dingin namun usil di depan adik-adik, mengamati mereka dari jauh. Mungkin nanti ia akan menemukan sesuatu yang hilang ketika pulang. Mantan pacarnya, misalnya. Kinasih tersenyum-senyum sendiri menghadao kaca, membayangkan kemungkinan yang indah-indah saja. Bus sudah sampai Sukun. Kinasih memutuskan untuk turun di Kaligawe. Ia masih ingin tenggelam pada lamunannya, menikmati sisa-sisa waktu sendiri untuk merenungi kekalahannya. 
Rumah sudah dipasangi bleketepe4. Tarub5 sudah setengahnya dipasang. Janur, tebu wulung, pisang raja, padi. Kinasih takjub dengan kelengkapan adat di rumahnya. Ia tak pernah tahu bahwa ayah tirinya peduli juga dengan adat Jawa. Ayah tirinya ternyata sedang mengenakan beskap dengan jenaka. Ia kelihatan berseri-seri menyambut Kinasih yang datang penuh keringat. Direntangkannya pelukan.

“Bir? Bir dingin?” senyum ayahnya melebar menawarkan minuman kepada anaknya.

“Boleh. Aku taruh tas dulu ya, Pa.”

Ritual ini hanya ada antara Kinasih dan ayah tirinya: minum bir bersama. Bukan bir nol alkohol. Mereka merasa rasanya pasti aneh jika minum bir tanpa alkohol. Minum bir bersama menandakan ada sesuatu yang tak terucap, tak terungkap, yang akan terurai dengan sendirinya seperti leganya sendawa. Mereka sudah saling amat peka. Kinasih adalah Electra pada ayah tirinya. 

Rumah yang riuh tak dihiraukan mereka berdua. Setelah mencuci muka, Kinasih dan ayahnya mengendap-endap ke belakang. Ibunya bahkan tak tahu bahwa ia sudah pulang. 

“Kok lengkap sekali adatnya?”

“Ini kan mantu terakhir adikmu. Lagipula orangtua calonnya menginginkan adat lengkap. Tidak mantap katanya kalau tidak begini. Kamu nggak apa-apa kan? Tidak merasa dibedakan kan?”

“Aku nggak apa-apa. Nanti ada ritual tumplak punjen segala?”

“Ada!”

“Papa antusias sekali?”

“Di tempat Papa nggak ada yang begini. Baru pertama kali ini mau mengadakan. Wah, nanti kalau Papa salah bagaimana ya?”

“Hahaha! Tenang saja.”

“Kamu bagaimana? Kok nggak tanya calonnya adikmu? Atau cerita sesuatu? Sudah ada rencana ke depan?”

Kinasih hanya menghembuskan nafas dalam-dalam. Ia kemudian bersendawa keras-keras. Ayahnya tertawa, Ia tahu sebaiknya pertanyaannya berhenti di situ. Kinasih menoleh.

“Sekarang aku tidak hanya janda. Aku pengangguran.”

“Ya sudah. Nanti menjelang malam kita jalan-jalan ke daerah normalisasi sungai ya. Kali Garang sampai Muara Banjirkanal Barat. Se-Semarang kalau perlu kita susuri.”

“Midodareninya Tina?”

“Besok, Anakku. Bleketepenya memang dipasang hari ini biar kamu cepat pulang. Hihihi.”

Kinasih selalu takjub dengan aksi ayah tirinya.
Di bekas kamarnya yang kini dijadikan kamar pengantin, ia mengingat akan naluri masa mudanya yang bergejolak. Paran adalah nama gejolak itu. Dia datang seperti api yang tak bisa dipadamkan sekali siram. Setiap melihat api spiritus steamboat di rumah-rumah makan, Kinasih akan tertawa miris. Paran memang dengan senyum konyolnya akan membuat analogi-analogi narsistik, termasuk api spiritus tadi. Usianya 20. Sama dengan Kinasih waktu itu. Tentu saja, untuk bisa memenuhi gejolaknya, Kinasih akan menyogok adik-adiknya dengan uang jajan lebih dari uang saku yang disisihkannya sebagai mahasiswi. Sementara Papa dan Ibu bekerja di tempat masing-masing, Kinasih dan Paran akan menyelinap ke kamar tanpa suara. Bercinta tanpa suara. Tertawa tanpa suara. Melenguh tanpa suara. Semua tanpa suara. Kehamilan Kinasih pun juga tanpa suara.

Tanpa suara Paran juga menghilang.Tanpa suara ia meninggalkan rumah dengan kekecewaan pada dirinya. Ia merasa semua kesalahan ada pada dirinya. Keluarganya mencoba menghubunginya. Sekali, dua kali, tiga kali. Tetapi ayah tirinya tak pernah menyerah. Lima bulan kemudian, Kinasih yang berhasil diketemukan dinikahkan dengan teman masa kecilnya, Prama. Prama tak pernah banyak bicara. Ia tidak meminta tidur bersama, tidak meminta Kinasih meninggalkan kuliahnya. Prama selamanya tak pernah mengucap kata cinta. Ia hanya ada sebagai pelengkap akta kelahiran. Setidaknya, ia memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami yang memberi nafkah materi. 

Anak Kinasih yang lahir, tiga hari kemudian mati. Prama tetap tak banyak bicara, tetapi ia mengurus pemakaman sementara Kinasih tenggelam dalam katatonia temporer yang tak terselami. Kinasih yang sudah pulih memutuskan untuk berhenti kuliah. Ia mengisi waktunya dengan berjualan online dan mengajar privat bagi anak-anak sekolah. Ia hanya ingin keluar rumah dan memutus ketidaknyamanan dalam diam bersama Prama. Kuliah hanya sebentar saja, setelah itu ia harus kembali ke rumah, karena rekan seangkatan telah lulus kebanyakan. Tak ada yang saling menuntut, tak ada yang saling mengkritik. Diam yang basi. Akan tetapi, untuk bercerai, entah mengapa mereka tak bisa. 

Prama sakit, hitungan bulan. Kanker kelenjar getah bening, secepat itu saja. Masih dalam diam, Kinasih mengurusnya. Membanting tulang, hutang ke sana ke mari. Seperti membalas jasa. Begitu saja, ia meninggal. Menyisakan kehilangan yang hening, hutang yang mendinding, dan garis batas antara keluarga dan Kinasih. Ayah tirinya menawarkan bantuan, akan tetapi ia menolak. Ia memilih pergi, dari satu kota ke kota, bekerja dari satu tempat ke tempat. Sebelas tahun sejak pernikahannya, hutang telah lunas. Tetapi cintanya baru saja tunas. 

Ketukan lembut di pintu menyadarkan Kinasih dari memorinya.

“Tin, dicari adikku.”

“Paran?”

“Lho, Kin?”

Hening lama. Kinasih telah lama tanpa drama. Penasaran dan kemarahannya telah menyatu pada harga diri yang menahan dirinya untuk bersuara. Dia hanya menabrakkan pandangannya dengan membabi buta.

“Adikku, Rama, calon suami Tina. Aku juga awalnya tidak tahu. Aku sudah lama tak pulang. Oh ya, maaf, aku baru tahu soal itu. Arimbi yang memberitahuku. Aku sudah menikah, satu setengah tahun lalu.” Kaku, Paran mengulurkan tangan, mengajak berdamai.

“Aku ndherek belasungkawa6 atas suamimu, Kin. Maaf.”

Kinasih keluar melewati Paran, masih dalam diam. Ia menjelma Prama. Ayah tirinya mengikuti dari belakang.

“Mau ke mana?”

“Jembatan Kali Garang.”

“Sudah jam segini. Nanti ada termamang7 lho.”

“Termamang adanya cuma di sawah dan pinggir sungai waktu aku kecil.” Ia menatap heran ayahnya yang masih memperlakukan dia seperti anak kecil, meski itu hanya caranya saja.

“Perlu ditemani?”

“Tidak usah.”

“Yakin?”

“Yakin.”
Berjalan menyusuri mural yang baru saja selesai di jembatan, Kinasih terhenti mengagumi. Ia lama tak melewati tempat-tempat ini. Banyak yang berubah. Normalisasi sungai telah membuat sekitar menjadi bersih. Di ujung sore ia melihat sekelompok remaja tanggung yang nggabur dara, layaknya yang ia lihat di bus tadi. Ternyata dalam suasana pulang tak banyak beda dengan keinginannya untuk singgah. Banyak muda-mudi yang dilihatnya bermesraan di pinggir sungai yang begitu nyaman. Ia menyumpahi kedewasaan hasrat yang begitu cepat, tak seiring dengan langkah pencegahan yang tepat. 

Kinasih terhenyak pada seorang anak laki-laki tambun yang mencoba menerbangkan layangan di depannya. Ia tersenyum melihat Kinasih dengan lembut.  PRAMA!

Bukan. Kinasih menghela kecewa. Ia teringat dulu ia dan Prama juga anak-anak lain sering bermain di tepi kali yang tak seteratur sekarang. Masih ada sawah. Masih ada legenda yang kasat mata. Prama tetap tambun dan pendiam, tetapi jika ia tertawa maka ia akan menjadi makhluk yang begitu lembut dan menggemaskan. 

Bersama dengan teman-temannya, tak hanya Kinasih yang pernah tenggelam. Prama juga. Ia baru ingat, demi dialah Prama tenggelam. Ingatan itu juga datang ketika ia mengenang termamang yang menghampiri masa kecilnya. Ia dan teman-temannya sepulang bermain di pinggir sungai biasanya akan bersiul memanggil makhluk gaib yang mampu menyerang manusia itu. Sinar keapian yang awalnya satu, berubah menjadi banyak dan berlipat. Tak berapa lama, mereka akan mematikan obor dan berlari demi menghindari patukan termamang yang membelah diri. Prama yang terlalu lambat untuk berlari akan memilih jongkok dan menggonggong. 

Pada saat itu, maghrib telah berlalu. Kinasih melihat ke sekelilingnya. Kosong. Dari jauh ia melihat sesosok yang baru saja dibatinnya. Termamang! Ia tidak bersiul, akan tetapi termamang itu seolah mengejar dirinya. Ia lupakan segala melankolisme yang sudah-sudah. Yang ia butuhkan kini ialah berlari, berlari dan berlari.

Motor ia naiki, kematian seperti mengejarnya dari jauh hari. Perasaannya kian tak beraturan. Ia hanya ingin kembali ke kota tempat ia tinggal enam tahun terakhir ini. Meski bisnisnya kena tipu hingga digit nol sembilan, meski kini ia hanya tinggal sendiri. Di belakang, termamang ini mampu membuatnya menyusuri jalan-jalan, memandunya memutari tilasan yang pernah ditapakinya.
Kinasih makin jauh berjalan dengan motor ayahnya, telah lelah ia mengitari kota. Bayang termamang telah menuntunnya hingga di muara Banjirkanal Barat. Lampu-lampu penerang di tepian kanal pengendali banjir terus memaparkan sinar yang angkuh dan membutakan. Orang-orang terus berdatangan. Kinasih lega, ia tak sendirian. Ia menyusuri tempat itu sambil merapal doa. Yang ada hanyalah kedamaian. Ia kini berjalan memasuki Tanjung Mas. Dari kejauhan ia masih melihat termamang itu mendekat seiring kejauhan dia dengan keramaian. Namun kini ia merasa bersahabat dengan sinar yang terus mendekatinya. Tak berapa lama, Kinasih telah berada di Monumen Ketenangan Jiwa. Ia menantang termamang yang semakin mendekat, semakin menyala, dalam diam dan dalam kecepatan yang konstan. Ia duduk di depan monumen bertuliskan tulisan Jepang untuk memperingati pertempuran Lima Hari di Semarang. Barangkali seperti itulah kini Kinasih, tak lagi bertarung dengan dirinya sendiri. Ia bersimpuh depan monumen dan mulai bersiul. Ia mulai bersiul sedapatnya lagu. Ia mulai bersiul tanpa mengindahkan orang yang menolehkan wajah mereka ke situ.  

Termamang itu tak membelah dirinya. Ia hanya membesar, membesar, dan membesar. Cahayanya melembut, melembut, dan melembut. Sosok itu mendekatkan paruhnya yang biasa mematuki pelepah pisang yang ditaruh anak-anak di sawah. Perlahan, ia mencium Kinasih. Kinasih tertawa, termamangnya gendut. Api berkobar dalam jernih matanya yang bangkit.

Terngiang dalam telinga Kinasih, sebuah petuah tentang bebrayan ketika khotbah nikahnya dulu: “Katresnan kang tanpa pangreksa iku dudu sejatining katresnan.8”

Kinasih mencium balik paruh termamang yang tajam sekam, lepas.

Keterangan:

  1. Adu cepat terbang merpati
  2. Nak, ini adalah tumplak punjen (perayaan mantu terakhir bagi keluarga perempuan). Biasanya terdapat ritual untuk menyebar peralatan (beras kuning, kedelai, jagung, jejamuan) yang disiapkan dalam bokor untuk diperebutkan oleh anak-anak dan cucu-cucu di keluarga tersebut. Namun, isi dari bokor tersebut harus disisakan untuk ditumpahkan bagi mempelai pengantin.
  3. Sebagai pelengkap hidup berkeluarga. 
  4. Daun kelapa yang masih hijau, dianyam, berukuran 50 cm x 200 cm yang dipasang mengelilingi area pernikahan. Dimaksudkan untuk mengajak mempelai dan keluarganya menyucikan diri sebelum pernikahan.
  5. Dekorasi tumbuhan (pisang, tebu, buah kelapa, daun beringin) dengan tujuan agar pasangan pengantin hidup baik dan bahagia.
  6. Ikut berbelasungkawa.
  7. Makhluk gaib di tepi Kali Garang yang keberadaannya mirip Banaspati yang berapi, hanya saja ini bisa menyerang secara fisik dengan paruhnya serta mampu membelah diri jika mendengar orang bersiul.
  8. Cinta kasih tidak disertai sikap merawat dan menjaga bukanlah cinta kasih sesungguhnya.
Self-disclosure

Profesi

DISCLAIMER: (disclaimer apaan) This is going to be a “gado-gado language” post with so many grammatical errors, so I beg your pardon beforehand.

I just called my husband to-be and asked him an important question: what does make his passion towards his job (occupation) is almost always strong? He’s an architect. Not that kind of rich architect who works for real estate development or Hamish Daud from saka aidi who could give 500gr of gold as his wedding mahar but a well, leftist socialist freelance (not really freelance tho, it’s a bit complicated; more like a very long partnership with an idealist studio) one.

Why? Because I am in a limbo right now.

Now I am in my long journey to become a (clinical) psychologist. I am doing the internship and for me, this is the hardest time. Not to mention about the long long long psychological reports that I have to write, but also the efforts (and costs) we are going through. I couldn’t even properly communicate in human language, moreover doing a therapy.  I know that I sound like an ungrateful bitch. So many many many people want to enroll in my university and bam, I was chosen. I also have a dad who’s willingly pay my tuition and supports my decision to resign last year.

But somehow, I am questioning my own motive to be here. Because, I remember what one of my favorite professors said: “If you think that it’s a burden, then it will be. But if you do the tasks with a happy mind and pleasure, and also an altruistic motive, you will be fine.”

I do the first.

I think it’s a burden.
Does it mean I don’t belong here? Does it mean I actually don’t want it?

Let me make a confession, may Lord forgive me (plus, today I didn’t go to the church. My mind is so fucked up I just can’t).

I’d been wanting this much since the second year I work in my ex-office. Why? Because some of my colleagues took master degree. I want to be like them; to do more, to achieve higher. I didn’t want to stuck there; be a secondary class person at a corporate university because you’re neither a lecturer (only have a bachelor degree) nor an entrepreneur. What kind of major I would choose~ Not management, etc. It didn’t suit me. I kept thinking back then.

I started to “see” some people (comparing myself to them, made some reference); some people whom I actually regret to look up to; and somehow that idea has come to me: psychologist. I have never thought that I will come back as a grad student on this major. It took 6,5 years for me to finish my bachelor degree there, along with my battle with depression and abusive relationship for almost two years (worse, the person is currently also taking master degree there). What in the world was I thinking about to going back there; only to take a much more difficult task?!

I know what I am thinking about, for your surprise.

Especially after last year,

I was thinking about POWER. 

Because IT is the thing that has been taken from me. 

About taking back my own life, about empowering myself, about not willing to LOSE AGAINST THOSE PEOPLE WHO DID ABUSE OF POWER TOWARDS ME and it happened that they take master degree in psychology too. They’re gonna be psychologists and I don’t want to lose. 

Furthermore, to empowering other people, esp. women with similar stories, even worse, children, teenagers, minority people or similar “powerless” people to stand on their own feet, to give them support (that’s why now I sound like a mad misandrist and easily triggered with minority/powerless-vs-majority/powerful-people-based conflicts). But of course, after I am finishing my unfinished business. 

Say what????? HALAH PREK. 

It’s not revenge, per se. But I know, it was grudge I holding on. It was grudge that moves me all along, to keep myself grounded, to keep myself from suicidal thought: “I have to live. Day by day. I have to succeed.”

My grudge is so powerful, yet so wrong.
I kept talking to God to bring my conscience; to “meluruskan niat untuk menolong orang” so that I don’t think that this semester is a burden.

Sometimes it works. Sometimes it doesn’t.

I am here to prove them something; that I am not losing anything, that I don’t deserve what they did. 

But do they care? 

And if they do, so fucking what? 


What will I do after this? I don’t know. 

Plus, how come I help people if I can’t even help myself!!! 

Kesh, you’re so full of bullshit.

Plus I am so damn tired of myself feeling this: Nervous Breakdown season I, Nervous Breakdown season II, and so on~ it’s debilitating.


Yesterday is Saturday. I worked so hard yesterday I barely rest. Still I could read some posts on social media how people enjoy their weekend. I was envious. I was even envious toward my lovely family who spent their holiday here together while I was trying to manage my time to see them at dinner. I was upset, but I don’t want them to know what’s going on on my mind. I disappointed them last year, I can barely even managed to do that right now.

I started to miss my simple office life: work, sometimes overtime, doing jobdesc, take my payment, and having fun. Yes, it was a comfort zone yet I tried my best to get out from there. However, it was comfortable. Kinda.

Now that I am down, I am questioning my own motive.

Is it fair for my clients? Is it fair for my family? For my husband to-be who is always passionate about his occupation and working hard to make an end meet? For one of my bestfriend, who was rejected three or four times to enroll here and finally accepted after trying so many times?
I feel deeply ashamed of myself. Sorry, Guys.

Is it even fair for myself to always made a wrong decision and did many many bad things to myself?  I think with so many foolishness and mistakes that I made, I truly hate myself.

Well, my husband to-be said something like this.

“At least, you can stand there with this kind of motive. You’re doing something and it works. It shows progress, even if it’s a very little step. Your clients show progress, right? For me, it’s like when I create something. Probably it takes a long time, probably I don’t get paid, probably I don’t win the competition, but I create something and it shows progress. You can feel like you’re doing something great, at least, at first, for yourself. You will have this satisfaction toward yourself and it will be enough, for now.”

I guess he’s kinda right.

Probably for now, what I need is a little progress.

With progress comes satisfaction and self-appraisal.

With satisfaction and self-appraisal comes motivation.

With motivation comes willingness to finish the task.

With finishing the task comes the main goal.

With the main goal comes self-love.

With the self-love comes compassion towards other people.

With compassion towards other people I can help others and even myself.

With helping others comes the passion.

What I mean with “passion” is, a growing love towards my occupation; a journey to find the true meaning behind what I decide to do, what I aim to be.

It’s probably not here, right now, but if I keep walking in this path, step by step, probably I will be there.

So, let’s take a bath and do what I have to do.